2018 : Strategi Pengembangan Karakter Moral Mahasiswa dengan Pendekatan Keyakinan Diri (Self-Efficacy) atas Kecenderungan Perilaku Menyimpang Mahasiswa Demi Menciptakan Lulusan Yang Berkualitas

Dra. Dyah Satya Yoga Agustin
Niken Prasetyawati SH., MH
Aurelius Ratu S.S, M.Hum
Ni Gusti Made Rai S.Psi, M.Psi


Abstract

Untuk menunjang salah satu misi ITS yaitu menyelenggarakan pendidikan tinggi yang unggul untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, sehat secara jasmani dan rohani, maka salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah perilaku moral. Dalam konteks lulusan yang berkualitas, aspek kematangan moral mahasiswa seringkali diandaikan begitu saja. Padahal banyak bermunculan kecenderungan perilaku menyimpang yang diakibatkan oleh tekanan dari nilai/prestasi akademik dan faktor eksternal lainnya. Salah satu indicator dari kecenderungan perilaku menyimpang ini adalah keyakinan diri (self-efficacy). Semakin tinggi keyakinan diri, seharusnya ini berdampak pada peningkatan prestasi akademis dengan tanpa mengorbankan kesadaran moral atas perilaku dalam dunia perguruan tinggi. Akan tetapi, antara keyakinan diri dan perilaku moral sering berbanding terbalik atau tidak menunjukkan kekonsistenan. Perilaku titip absen cenderung dianggap lumrah lantaran tidak berkaitan langsung dengan prestasi atau pun nilai akademis. Di satu sisi, para mahasiswa menyadari bahwa tindakan itu salah. Tapi, di sisi lain, mereka melakukannya demi skala prioritas akademis (nilai dan IPK) sebagai syarat ‘lulusan berkualitas’. Gejala ini menunjukkan sebuah dilema kebijakan yang berkaitan dengan aspek moral di mana proses pendidikan seharusnya berlangsung dalam perguruan tinggi. Untuk mencegah kecenderungan perilaku yang dianggap lumrah ini, maka ada tiga hipotesa yang akan digunakan. Pertama, terdapat korelasi antara aspek kultural dan keyakinan diri atas munculnya perilaku menyimpang mahasiswa. Kedua, semakin tinggi tingkat keyakinan diri, tindakan titip absen seharusnya tidak terjadi. Dan ketiga, perilaku titip absen sebagai perilaku dengan kecenderungan menyimpang dipengaruhi oleh aspek kultural (sungkan, suka menolong) dibandingkan dengan keyakinan diri (self-efficacy). Pengujian hipotesa ini akan dilakukan dengan dua variabel, yakni keyakinan diri (self-efficacy) dan putusan atas perilaku moral (moral reasoning). Aspek kultural akan termaktub (included) dalam strategi pengujian dengan melibatkan aspek tanggung jawab (denial of responsibility), aspek prioritas (appeal to higher value/loyalty), pelaku titip absen (denial of the crime), dan mereka yang dititipi absen (denial of victims). Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat mendukung terciptanya lulusan yang berkualitas dengan strategi pengembangan karakter moral mahasiswa baik melalui kebijakan kurikulum maupun kebijakan non-akademik. Kata Kunci: perilaku menyimpang; keyakinan diri (self-efficacy); titip absen; dunia akademis.