2018 : Ekstraksi dan Pemurnian Senyawa Fitokimia dari Temulawak Menggunakan CO2 Superkritis dalam Mendukung Ketersediaan Obat Berbasis Bahan Baku Alami Lokal

Prof.Dr.Ir. Sugeng Winardi M.Eng
Dr.Eng. Siti Machmudah , ST.,M.Eng.
Dr Kusdianto ST., M.Sc.Eng.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Senyawa fitokimia memiliki efek farmakologi dan toksikologi pada hewan dan manusia sehingga bermanfaat untuk pengobatan. Ekstraksi dan pemurnian senyawa fitokimia penting untuk mengeksplorasi biomolekul yang terdapat dalam tanaman dan mendapatkan senyawa fitokimia yang akan digunakan untuk farmasi dan industry agrokimia. Ekstraksi senyawa fitokimia pada umumnya dilakukan secara konvensional menggunakan air atau pelarut organik yang bersifat toksik pada suhu tinggi sehingga dapat merusak bahan fitokimia yang terekstrak. Pada penelitian ini ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut CO2 superkritis karena CO2 bersifat non-toksik, murah, tidak mudah terbakar, dan mempunyai suhu dan tekanan kritis rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh suhu, tekanan, laju alir CO2, dan ukuran bahan terhadap kinerja (rendemen dan kandungan senyawa fitokimia) ekstraksi senyawa fitokimia dari temulawak menggunakan CO2 superkritis, mengoptimasi kondisi proses, membangun model matematis transfer massa pada proses ekstraksi senyawa fitokimia dari temulawak menggunakan CO2 superkritis dan membandingkan kinerja berbagai metode ekstraksi berdasarkan tingkat selektivitas dan recovery. Desain percobaan ekstraksi senyawa fitokimia dengan CO2 superkritis dirancang dengan menggunakan Program Design Expert 7.0 Response Surface Methodology (RSM) Box-Behnken Design. Ekstraksi dilakukan dengan metode soxhlet, ultrasonik, air subkritis, dan CO2 superkritis. Ekstrak yang diperoleh kemudian dianalisa menggunakan UV-VIS spectrometry, GC-MS, dan HPLC. Residu dianalisa menggunakan SEM untuk mengetahui gambaran mikrostrukturnya. Ekstrak selanjutnya dimurnikan dengan menggunakan kolom kromatografi dan kristalisasi. Optimasi dilakukan untuk menentukan kondisi operasi ekstraksi terbaik. Proses transfer massa selama ekstraksi dimodelkan dengan model Shrinking Core dan Broken and intact Cell (BIC).Target luaran penelitian meliputi publikasi satu paper pada jurnal internasional terindeks scopus, satu seminar internasional, satu buku disertasi, satu buku thesis, dan senyawa fitokimia berupa kurkumin dan xanthorrizol. Penelitian direncanakan dilakukan selama 2 tahun.