2017 : TEKNOLOGI KULTUR IN VITRO SEBAGAI UPAYA ALTERNATIF KONSERVASI DAN KOMERSIALISASI BENIH SINTETIK Moringa oleifera \n

Nurul Jadid S.Si., M.Sc
Wirdhatul Muslihatin S.Si., M.Si.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Benih sintetik atau artificial seeds merupakan benih yang berasal dari berbagai bahan tanaman seperti embrio somatik, akar bermbut (hairy roots), pucuk tunas, tunas aksiler, setek, dan beih biasa dari banyak jenis tanaman. Bahan tanaman tersebut akan berada didalam mantel (kapsul), sehingga sifatnya mirip dengan benih zigotik. Mantel tersebut berperan sebagai endosperma yang mengandung sumber karbon, nutrisi, dan zat pengatur tumbuh (ZPT) Produksi dan aplikasi benih sintetik telah dilakukan secara luas dalam bidang bioteknologi tanaman seperti perbanyakan klonal secara masal dan dalam jumlah besar, konservasi plasma nutfah, mempermudah penyimpanan dan transportasi benih. Teknologi benih sintetik merupakan teknik yang sangat perspektif untuk dikembangkan dalam perbanyakan biji dan konservasi. \nUpaaya konservasi memiliki tujuan untuk menjamin kelestarian, mencegah terjadinya kepunahan yang disebabkan oleh kerusakan habitat dan pemanfaatan yang tidak terkendali, dan menjadikan sumber plasma nutfah untuk mendukung pengembangan dan budidaya tanaman pangan, maupun obat-obatan. Salah satu jenis tanaman yang memerlukan usaha konservasi adalah Moringa oleifera. \n Pemanfaatan M oleifera yang luas, namun perbanyakan M. oleifera mengalami kendala yaitu perbanyakannya secara konvensional melalui biji (generatif) cukup sulit karena kemampuan perkecambahan (viabilitas) bijinya rendah, kelangsungan hidupnya rendah, pertumbuhan membutuhkan waktu yang lama dan kurangnya metode perbanyakan secara vegetative. Salah satu alternatif untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan melakukan perbanyakan tanaman dan penyediaan benih secara vegetatif melalui pendekatan bioteknologi yaitu teknologi Kultur In Vitro dengan mengaplikasikan teknologi benih sintetik. \nTeknologi benih sintetik diharapkan tidak sebagai upaya untuk konservasi yang bermanfaat bagi lingkungan tetapi teknologi ini memiliki peluang besar untuk diterapkan secara industri guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya secara ekonomi. Pelaksanaan konservasi diupayakan beriringan dengan upaya komersialisasi untuk mendapatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Kelebihan Teknologi benih sintetik dapat memberi keuntungan antara lain penyimpanan yang tahan lama, mempermudah distribusi atau penyebaran, serta dapat melindungi benih dari penyakit.\nPada penelitian sebelumnya, telah berhasil diproduksi benih sintetik. Benih sintetik yang telah dihasilkan mengalami kendala perkecambahan yaitu hanya 41,67% yang mampu berkecambah, sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang optimasi media perkecambahan benih sintetik agar dapat menghasilkan bibit yang unggul. \nTujuan dari penelitian ini yaitu 1) melakukan konservasi M. oleifera secara in vitro melalui optimasi media perkecambahan benih sintetik, dan 2) memproduksi benih sintetik yang memiliki kualitas tinggi hingga menghasilkan bibit unggul sebagai upaya komersialisasi benih sintetik. Benih sintetik yang akan dihasilkan dikecambahkan dalam medium dengan variasi Zat pengatur tumbuh dan sumber karbon yaitu MSO, MS + IBA 1 mg/L, MS + IBA 2,4 mg/L, dan MS + GA 0,055 mg/L, MS + GA 0,015 mg/L dengan penambahan sukrosa masing – masing 30%, 45% dan 60%. Parameter keberhasilan perkecambahan yang akan diamati dan dihitung adalah persentase perkecambahan, kualitas kecambah (normal, abnormal, dan mati), tinggi kecambah dan bibit yang dihasilkan. \n\n