2020 : Analisis dan Potensi Penerapan Konsep Green Port Guna Menjadikan Sustainable Port di Pelabuhan Indonesia

Hasan Iqbal Nur S.T., M.T.
Pratiwi Wuryaningrum ST., MT

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Saat ini isu pembangunan infrastruktur berwawasan lingkungan (Eco/Green) semakin tinggi. Di dunia maritim, emisi karbon semakin diatur. MARPOL semakin mengatur trasportasi laut untuk tidak mencemari lingkungan. Saat ini MARPOL masih mengatur tentang pelayaran saja. Bukan tidak mungkin ke depan pelabuhan yang merupakan titik – titik pertemuan transportasi laut dan darat akan diatur tentang tingkat polusi yang ditimbulkan. Di Eropa, Eurpoean Sea Port Organization (ESPO) mempromosikan pengelolaan, kebijakan, dan rencana lingkungan di pelabuhan Eropa. Untuk mempromosikan Green Guide ESPO, pada tahun 1999 lembaga ini mendirikan EcoPorts Foundation, sebuah jaringan pelabuhan Eropa untuk mengidentifikasi 10 aspek lingkungan ecoport yang signifikan dari kegiatan, produk, dan layanan pelabuhan. 10 prioritas lingkungan teratas saat ini dari pelabuhan ESPO, yang penting adalah kualitas udara, konsumsi energi, kebisingan, hubungan dengan masyarakat setempat, sampah/limbah pelabuhan, limbah kapal, pengembangan pelabuhan, kualitas air, debu, dan operasi pengerukan. Demikian pula, di Amerika, Asosiasi Amerika dari Otoritas Pelabuhan (AAPA), dengan 150 anggota di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan, telah mengembangkan panduan untuk manajemen lingkungan, Environtmental Management Handbook (EMH). Berbagai inisiatif internasional memberikan langkah baru menuju menjadi lebih eco-friendly. Pada 2008, Asosiasi Internasional Pelabuhan dan Pelabuhan (IAPH) meminta Komite Lingkungan Pelabuhannya, bekerja sama dengan organisasi pelabuhan regional untuk menyediakan mekanisme guna membantu pelabuhan memerangi perubahan iklim. Akibatnya, pada tahun 2008 Deklarasi Iklim Pelabuhan Dunia C40 diadopsi, yang mengarah ke apa yang sekarang disebut World Port Climate Initiative (WPCI), berjumlah 55 pelabuhan di seluruh dunia yang mengejar berbagai langkah green seperti memberikan diskon kepada kapal yang mencetak di atas ambang batas tertentu pada Environmental Ship Index (ESI). Inisiatif ini telah diperluas dengan peluncuran World Ports Sustainability Program (WPSP) pada tahun 2018. Ini adalah inisiatif bersama oleh IAPH, AAPA, ESPO, Worldwide. Network of Port Cities (AIVP), dan World Association for Waterborne Transport Infrastructure (PIANC). Program ini bertujuan untuk mengikuti 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan oleh PBB. Lima tema utama adalah infrastruktur resilient, iklim dan energi, penjangkauan masyarakat, keselamatan dan keamanan, dan tata kelola dan etika. Memperhatikan hal – hal tersebut maka pelabuhan yang merupakan gerbang ekonomi suatu daerah harus mempersiapkan pengembangan pelabuhan berbasis lingkungan (ecoport) tak terkecuali pelabuhan-pelabuhan di Indonesia. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan penelitian ini untuk mendapatkan kriteria eco-friendly dan penilaian saat ini pelabuhan-pelabuhan di Indonesia seberapa eco-friendly. Selain itu, untuk mengembangkan pelabuhan-pelabuhan tersebut perlu adanya model yang dapat dijadikan pedoman, walaupun sebenarnya di luar negeri sudah ada panduannya tapi tidak semua panduan tersebut sesuai dengan karakteristik Indonesia. Maka dari itu perlu adanya panduan yang standar sesuai dengan karakteristik wilayah di Indonesia.