2018 : TANGGAPAN PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP LOKASI BERDAGANG BARU DAN STRATEGI BERTAHAN HIDUP PASCA RELOKASI DI KECAMATAN SUKOLILO SURABAYA

Drs. Marsudi M.S.
Drs. Edy Subali M.Pd.
Dra. Enie Hendrajati
Dra. Siti Zahrok
Dra. Ni Wayan Suarmini M.Sc


Abstract

Dalam rangka menunjang salah satu misi ITS yakni pengembangan potensi daerah dan pemberdayaan masyarakat, maka peran pedagang kaki lima cukup penting. Pedang kaki lima yang bergerak disektor informal dapat sebagai solusi penanganan tenaga kerja diperkotaan. untuk menampung tenaga kerja diperkotaan yang tidak tertampung dalam sektor formal, maka menjadi PKL menjadi solusi untuk memberikan hak kesejahteraan kepada masyarakat. Mereka tertarik bekerja disektor informal khusunya menjadi PKL karena modalnya relatif sedikit , tidak membutuhkan prosedur yang rumit dan tempat usahanya cukup simpel. Usaha-usaha yang mereka geluti biasanya di bidang produksi dan penjualan barang-barang dan jasa. Kehadiran PKL sebenarnya sangat dibutuhkan untuk melayani masyarakat golongan menengah ke bawah di perkotaan. Mereka umumnya menjalankan Usaha-usahanya pada tempat –tempat yang strategis dan dalam suasana lingkungan informal. PKL sering menjadi sorotan masyarakat terutama dalam bidang tata kelola kota. Keberadaan PKL membawa masalah sosial dan lingkungan. Kotor, kumuh,ruwet, mengganggu pejalan kaki dan pengguna jalan raya, tuduhan semacam itu sering diterima oleh PKL. Untuk mengatur ketertiban umum dan ketentraman masyarakat , pemda kota Surabaya mengeluarkan perda kota no2 tahun 2014. Keberadaan PKL diatur dengan tujuan agar PKL dalam berjualan pada tempat yang legal, lebih tertib dan tentram. Berdasarkan hal tersebut di atas sangat penting mengetahui tanggapan PKL terhadap tempat berdagang baru dengan harapan PKL dapat tetap survival dalam menghadapi hidup. Tempat berusaha yang aman dan nyaman akan dapat memberi pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesejahteraan mereka.