2019 : Impelentasi Internet of Things pada Alat Mixing Garam Industri

Dr.Ir. Totok Soehartanto DEA
Faizal Mahananto S.Kom, M.Eng., Ph.D
Afrian Riznaldhy
Herry Sufyan Hadi ST., MT.


Abstract

Saat ini kebutuhan garam nasional mencapai 3.61 juta ton, terdiri dari garam konsumsi sebesar 1,48 juta ton dan garam industri 2,13 juta ton (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2014). Kebutuhan garam industri terdiri dari industri Chlor Alkali Plant (CAP) dan farmasi sebesar 1,91 juta ton, dan industri non CAP sebesar 215 ribu ton. Kebutuhan garam industri sebagian besar dipenuhi oleh pasokan impor untuk industri CAP dan non CAP sebesar 1,78 juta ton atau mencapai 83,54 persen, dan produksi garam industri di dalam negeri masih belum mampu memenuhi garam industri nasional. Hal ini terkait dengan kadar NaCl untuk garam industri yang tinggi, yaitu NaCl > 97%, sehingga perlu inovasi dari sisi teknologi pada produksi garam di dalam negeri untuk dapat menghasilkan garam berkualitas yang setara dengan garam industri agar tidak tergantung pada pasokan garam impor. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut, seperti penggunaan geo membrane pada lahan produksi garam, yaitu membran yang diletakkan pada setiap kotak lahan dan bersentuhan langsung dengan air garam yang dipanaskan. Kekurangan pada metode geo membrane adalah masih bergantung pada kondisi cuaca. Metode lain yang digunakan adalah hidroekstraksi, yaitu pengotor pada permukaan kristal garam direduksi dengan proses pencucian menggunakan larutan garam jenuh. Bahan baku yang digunakan berupa garam yang masih segar. Selanjutnya reduksi pengotor yang terdapat di dalam kristal dilakukan dengan metode hydromilling, dimana kristal garam dikecilkan ukurannya dan dicuci kembali menggunakan larutan garam jenuh. Kekurangan pada metode ekstraksi adalah perbedaan ukuran partikel garam yang signifikan pada setiap volume, shingga proses pencucian masih belum maksimal, dan proses pemurnian masih bersifat batch. Sehingga mulai tahun 2016 kami telah mengembangkan sistem pemurnian garam yang mengkombinasikan metode rekristalisasi dengan sistem otomatis. Sistem ini telah menghasilkan pemurnian garam dengan kadar NaCl > 95% dan proses produksi dapat dilakukan secara kontinyu. Namun masih ada beberapa penyempurnaan pada pada sistem yang telah dibuat, antara lain : (1) masih belum dilakukan kalibrasi pada semua sistem kontrol yang ada; (2) belum dilakukan uji parameter beberapa kandungan selain NaCl agar dapat memenuhi standar garam industri pada SNI 01-4435-2000; (3) belum terintegrasi pada sistem Internet of Things (IoT). Berdasarkan pada kondisi tersebut, maka pengembangan yang dilakukan adalah : (1) kalibrasi pada semua sistem kontrol yang ada, (2) pengujian beberapa kandungan garam hasil pemurnian, (3) perancangan sistem monitoring terintegrasi melalui sistem IoT pada prototipe yang dibuat. Rencana luaran berupa alat pemurnian garam berbasis IoT (Internet of Things) yang siap untuk diproses lebih lanjut untuk mendapatkan dokumen pendaftaran paten pada saat program ini berakhir. Kata kunci : Garam, alat pemurni garam, IoT