2017 : PERAN BIOSURFAKTAN DAN COMPOST HUMIC ACID LIKE SUBSTANCE SEBAGAI EMULSIFIER PADA PEMULIHAN TANAH TERKONTAMINASI MINYAK BUMI DENGAN METODE PENGOMPOSAN

Prof. Dr. Yulinah Trihadiningrum M.App.Sc
Dr.Ir. Ellina S Pandebesie MT.
I D A A Warmadewanthi ST, MT, Ph.D


Abstract

Keberadaan residu total petroleum hydrocarbon (TPH) dalam tanah akibat kegiatan eksplorasi dan ekslpoitasi minyak bumi menjadi salah satu fokus perhatian pemerintah karena termasuk salah satu limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Kepmen LH No.128 tahun 2003 menentukan kadar TPH dalam tanah yang diperbolehkan sebesar 10.000 mg/kg atau 1%. Namun, penggunaan teknologi pertambangan minyak yang terbatas dapat menyebabkan terjadinya pencemaran tanah oleh TPH. Hal ini terjadi di lokasi pertambangan rakyat Desa Wonocolo, Kabupaten Bojonegoro, dimana kadar TPH dalam tanah mencapai 4,12%. \n\nPemulihan kondisi tanah tercemar TPH akibat tumpahan minyak bumi dapat dilakukan secara biologis dengan metode pengomposan dengan memanfaatkan kemampuan biodegradasi bakteri. Tingkat biodegradasi TPH oleh bakteri dalam proses pengomposan dipengaruhi oleh solubilitas senyawa TPH itu sendiri. Dalam proses pengomposan, solubilitas TPH meningkat karena adanya emulsi oleh surfaktan alami (biobased surfactant) sehingga TPH menjadi lebih bioavailable bagi bakteri. Biobased surfactant terbentuk dari dekomposisi bahan organik dalam proses pengomposan yang terdiri dari biosurfaktan dan compost humic acid like substance (cHAL). Namun, studi mengenai karakteristik serta kemampuan biosurfaktan yang dihasilkan oleh konsorsium bakteri dan cHAL dari proses pengomposan sebagai emulsifier untuk membantu meningkatkan solubilitas TPH pada tanah terkontaminasi minyak bumi masih sangat terbatas\n\nPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik dan kemampuan biosurfaktan dan cHAL yang dihasilkan dari proses pengomposan pada pemulihan tanah tercemar minyak bumi sebagai emulsifier, sehingga biodegradasi TPH dapat lebih optimum. Penelitian ini terbagi menjadi 4 tahap yaitu: 1) Proses pengomposan tanah tercemar minyak bumi dengan limbah padat organik (komposisi 1:1), rumen sapi, sampah kebun, dan tanah tercemar minyak bumi. 2) Ekstraksi biosurfaktan dan cHAL yang terbentuk selama proses pengomposan. Ekstraksi biosurfaktan dan cHAL dilakukan dengan prinsip yang berbeda yaitu pengadukan dan penambahan asam-basa. 3) Identifikasi dan karakterisasi biosurfaktan dan cHAL yang terbentuk selama proses pengomposan limbah padat organik sebagai emulsifier yang meliputi aktivitas emulsifikasi dan tegangan permukaan. Aktivitas emulsifikasi dan tegangan permukaaan masing-masing diuji menggunakan vortex dan Tensiometer Du-Nuoy. 4) Pengujian kemampuan biosurfaktan dan cHAL dalam mengemulsi TPH dari tanah terkontaminasi minyak bumi dengan metode soil washing menggunakan agitasi. Agitasi dilakukan selama 10-15 menit yang dilanjutkan dengan inkubasi selama 8 jam. Guna mengetahui senyawa TPH yang mengalami emulsi dan solubilisasi juga dilakukan analisis pada awal dan akhir soil washing menggunakan metode gravimetri.\n\nDiharapkan informasi yang diperoleh dari hasil peneltian dapat menjadi dasar untuk mengurangi kebutuhan akan surfaktan komersial dalam pemulihan lingkungan tercemar crude oil.\n\nKata kunci: biobased surfactant, biosurfaktan, compost humic acid like, pengomposan, emulsifier, pencemaran minyak