2019 : Pengembangan Model Opsi Pemuasan Pembiayaan Modal Untuk Kesuksesan dan Keberlanjutan Pengembangan Proyek LRT di Indonesia

Dr Christiono Utomo S.T., M.T.

Year

2019

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Ketersediaan infrastruktur adalah faktor utama penggerak perekonomian. Rendahnya tingkat investasi penyediaan infrastruktur akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Pembiayaan merupakan faktor penting dalam pengembangan suatu infrastruktur dan merupakan hal yang sangat kompleks. Studi Bappenas tahun 2015 menyajikan kebutuhan pembeayaan infrastruktur transportasi pada tahun 2015 – 2019 dengan total 139 Milyar USD yang meliputi pembeayaan pemerintah sebesar 86,8 milyar USD, kerja sama 31,6 Milyar USD dan swasta 21,4 milyar USD. Besarnya kebutuhan pembiayaan infrastruktur transportasi memunculkan masalah sumber pendanaan termasuk proyek transportasi LRT sebagai kereta ringan. Lebih dari 90% rencana dibatalkan atau ditunda. Ini menunjukkan kelemahan dalam pemahaman dan praktik pembiayaan dan manajemen risiko. LRT pernah dikembangkan di beberapa kota di Indonesia seperti di Jakarta dan Surabaya dalam bentuk tram, Berbagai perencanaan LRT di Indonesia telah lama dilakukan, di Jakarta, Bandung dan Surabaya dengan rencana monorail dan LRT, serta Surabaya ditambah rencana tram. Saat ini yang sudah berlangsung pembangunannya adalah LRT di Palembang dan Jakarta. Sebagai kereta api ringan yang beroperasi di kawasan perkotaan, biaya pembangunan jalur kereta api ringan relatif lebih mahal dari moda rel yang lain karena kebutuhan teknologi tinggi dan tuntutan aspek teknis termasuk presisi yang tinggi. Sebuah survei proyek kereta api ringan tahun 2006 menunjukkan bahwa biaya sebagian besar sistem LRT berkisar antara USD 9 juta sampai lebih dari USD 62 juta per km. Besarnya beaya pembangunan LRT menyebabkan ketidakpastian pada pembeayaan atau pendanaannya. Beberapa ketidakpastian dalam keuangan dan pembeayaan pengembangan LRT adalah ketersediaan dana pemerintah pusat, ketersediaan dana pemerintah daerah, meningkatnya beaya investasi, keterlambatan waktu, dan peningkatan pajak. Optimasi pembeayaan diperlukan untuk menemukan skema yang paling tepat untuk pengembangan tram LRT. Ada dua skema yang paling menonjol yaitu adalah pembeayaan modal sendiri melalui skema anggaran daerah atau nasional, dan pembeayaan kerjasama dengan melibatkan swata dalam hal ini menggunakan skema PPP (Publik private partnership). Ada batasan yang melekat di masing masing skema. Pada pembeayaan ekuiti, batasan nilai yang menjadi dasar persetujuan sangatlah kecil, ada juga masa konsesi yang muncu di PPP. Masing masing sumber pembiayaan memiliki biaya modal dan tingkat penerimaan resiko pemberi modal. Pendekatan biaya modal dan resiko dari berbagai sumber dana memerlukan pendekatan dengan pilihan pemuasan seluruh pihak selain dari hasil perhitungan penerimaan finansial. Penelitian ini direncanakan selama dua tahun dalam tingkat kesiapan teknologi sampai TKT 3. sebagai bagian dari keseluruhan peta jalan penelitian hingga TKT 9 selama 6 tahun. Pada tahun pertama diharapkan bisa diselesaikan hasil hingga TKT 2 yang meliputi model empiris dan konseptual serta hubungan antar variabel, dan sistem manajemen pengetahuan untuk resiko finansial, sumber daya dan perilakunya. Pada tahun kedua direncanakan tercapai hasil model opsi kepuasan untuk seluruh shareholder atau penyandang dana, persepsi resiko, dan preferensi untuk optimasi