2018 : Pembuatan Sistem Penerjemah Bahasa Isyarat Bahasa Indonesia untuk Alat Bantu Komunikasi bagi Tuna Rungu Menggunakan Deep Learning

Dr.Eng. Nanik Suciati S.Kom., M.Kom.
Wijayanti Nurul Khotimah S.Kom., M.Sc.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebesar 12.5%, dimana 10.29% diantaranya masuk ke dalam kategori sedang dan sisanya termasuk ke dalam kategori berat. Di Indonesia dimana penyandang disabilitas tuna rungu menempati urutan terbesar ke dua. Biasanya orang yang menderita tuna rungu dan tuna daksa mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Hal ini mengakibatkan mereka seakan tersisih dalam berkehidupan bermasyarakat karena adanya problem komunikasi. Salah satu cara yang sudah dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membuat bahasa isyarat yang kemudian dikenal dengan Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI). Namun penggunaan SIBI ini kurang optimal karena tidak semua orang bisa sehingga ketika seseorang ingin berkomunikasi dengan penderita tuna rungu mereka harus berkomunikasi melalui perantara penerjemah bahasa isyarat yang jumlahnya terbatas. Berbagai penelitian tentang pengenalan bahasa isyarat sudah dilakukan, namun penelitian tersebut masih terbatas pada pengenalan beberapa istilah saja. Problem terjadi karena bahasa isyarat jumlahnya sangat banyak, mencapai ribuan, sehingga diperlukan classifier yang lebih rowbust untuk menyelesaikan pronlem ini. Di sisi lain, saat ini sedang berkembang sebuah metode klasifikasi yang sudah terbukti bagus dalam mengenali data dengan jumlah kelas yang besar seperti pada aplikasi google translate dan google voice recognition. Metode tersebut adalah Deep Learning. Oleh karena itu, pada penelitian ini diusulkan Pembuatan Sistem Penerjemah Bahasa Isyarat Bahasa Indonesia untuk Alat Bantu Komunikasi bagi Tuna Rungu Menggunakan Deep Learning. Sistem yang diusulkan menggunakan teknologi Kinect karena Kinect mampu mendeteksi posisi-posisi khusus pada tangan. Selain itu, dengan menggunakan Kinect user tidak perlu memasang alat apapun di badannya sehingga penggunaan sistem lebih natural. Sistem ini diharapkan dapat mengenali banyak bahasa isyarat dengan akurasi yang tinggi sehingga bisa bermanfaat bagi penderita tuna rungu.