2017 : ANALISA WILAYAH PESISIR MENGGUNAKAN CITRA PLEIADES DAN SPOT6 UNTUK PERENCANAAN LAHAN AKUAKULTUR (STUDI KASUS: KECAMATAN JENU, TUBAN)

Prof. Dr. Ir. Bangun Muljo Sukojo DEA.DESS
Husnul Hidayat S.T., M.T.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan ±3.257.483 km2 (belum termasuk ZEE) dan garis pantai ±99 km2 menurut Badan Informasi Geospasial (BIG), 2013. Tidak mengherankan jika masyarakat Indonesia banyak yang berprofesi menjadi nelayan. Namun sebagian besar nelayan Indonesia masih tergolong kaum marjinal, miskin terhadap ilmu pengetahuan teknologi penangkapan ikan dan lemah pemodalan. Dengan keadaan tersebut sangatlah sulit jika harus mendapatkan ikan di tengah laut dan bersaing dengan kapal-kapal besar yang dilengkapi dengan teknologi penangkapan ikan dan penginderaan. Maka salah satu jalan untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan membuat budidaya perikanan (akukultur).\nSalah satu kabupaten di wilayah pesisir utara Pulau Jawa yang memiliki potensi besar untuk perencanaan lahan akuakultur yaitu Kabupaten Tuban. Tuban sendiri memiliki garis pantai sepanjang 65 km dan memiliki luas lautan 22.608 km2 yang terbentang dari arah timur Kecamatan Palang sampai arah barat Kecamatan Bulu Bancar. Dengan luas dan panjang garis pantai tersebut banyak meyimpan potensi, baik potensi hayati maupun potensi non hayati. Potensi hayati misalnya: perikanan, hutan mangrove, dan terumbu karang, sedangkan potensi non hayati misalnya mineral dan bahan tambang serta pariwisata.\nDalam pembuatan peta wilayah pesisir yang digunakan untuk perencanaan lahan akuakultur dibutuhkan citra satelit resolusi tinggi yang memiliki cakupan luas serta dapat menggambarkan kenampakan-kenampakan fisik sesuai dengan kenampakan di lapangan, sehingga dapat memberikan informasi yang akurat. Seperti yang diketahui dalam proses perekaman data citra satelit terdapat beberapa faktor kesalahan yaitu distorsi geometri seperti pergesaran, kemiringan dan variasi topografi, sehingga perlu dilakukan proses orthorektifikasi yang bertujuan untuk menghilangkan distorsi geometri tersebut. Metode orthorektifikasi yang digunakan yaitu Rational Polynomial Coefficient (RPC) yang didukung dengan data Ground Control Point (GCP), Independent Check Point (ICP), peta RBI 1:25000, peta LPI 1:50000 dan data citra satelit resolusi tinggi Pleiades serta citra satelit resolusi menengah SPOT6.\nSecara garis besar tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data, pengolahan data, observasi lapangan, analisis data dan pembuatan peta wilayah pesisir skala 1:5000 dan 1:25000. Dari hasil pembuatan peta tersebut, juga dilakukan analisis tingkat kandungan TSS. Dan nantinya akan didapatkan daerah yang berpotensi untuk perencanaan lahan akuakultur yang baik. Algoritma TSS yang digunakan yaitu:\nTSS = a *