2018 : PEMETAAN POTENSI INFRASTRUKTUR TRANSIT (TOD) MENGGUNAKAN QUALITATIVE COMPARATIVE ASSESSMENT (QCA) UNTUK MENINGKATKAN PENGGUNAAN ANGKUTAN UMUM DI SURABAYA

Ir. Akhmad Yusuf Zuhdy PG.Dipl.Plg., MRE.
Siti Nurlaela ST., M.Com., Ph.D
Ketut Dewi Martha Erli Handayeni ST., MT.


Abstract

Surabaya sebagai kota kedua terbesar di Indonesia setelah Jakarta, berpenduduk 3.250.417 jiwa pada tahun 2016 (BPS Provinsi Jatim, 2018). Sebagai kota metropolitan, keberadaan transportasi massal (angkutan massal cepat/AMC) menjadi kebutuhan mendasar. Akan tetapi, hingga saat ini pelayanan AMC belum tersedia di Kota Surabaya. Saat ini, transportasi publik masih dilayani oleh moda konvensional berupa angkutan kota, bus kota patas/ekonomi, serta kereta api komuter (Budiati, 2015). Tidak adanya AMC menyebabkan belum optimalnya penggunaan angkutan umum dan tingginya penggunaan kendaraan pribadi, hingga menyebabkan Surabaya tercatat sebagai kota keempat di dunia dengan kemacetan tertinggi (Castrol Magnatec, 2015). Salah satu factor penyebab belum optimalnya penggunaan angkutan umum saat ini adalah belum terintegrasinya moda angkutan umum atau rendahnya sistem intermodal. Akibatnya, pengguna angkutan umum harus melakukan proses transfer yang tidak efisien yang menyebabkan rendahnya minat masyarakat menggunakan angkutan umum. Selain itu, belum terintegrasinya pengembangan tata guna lahan dan transportasi dalam pengembangan infrastruktur transit menyebabkan rendahnya aksesibilitas angkutan umum terhadap pusat-pusat kegiatan. Peningkatan penggunaan angkutan umum dapat diupayakan melalui pengembangan infrastruktur transitnya. Pengembangan infrastruktur transit ini ditujukan terutama untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat mencapai pusat-pusat kegiatan menggunakan angkutan umum. Selain itu, pengembangan infrastruktur transit yang memperhatikan konektivitas antar berbagai system angkutan umum dapat meningkatkan integrasi multimoda serta memudahkan masyarakat mengakses angkutan umum. Saat ini, konsep pengembangan infrastruktur transit dilakukan dalam pendekatan transit oriented development atau TOD. Pengembangan infrastruktur transit berorientasi TOD mampu mengintegrasikan aspek density (kepadatan kegiatan), diversity (keragaman kegiatan), dan design (penataan kegiatan) dengan aspek transportasi atau aksesibilitas pusat-pusat kegiatan-kegiatan kota. TOD berhasil meningkatkan daya tarik kawasan transit, menarik investasi pembangunan di sekitar kawasan, bahkan meningkatkan penggunaan angkutan umum dari hanya 7% (1970) menjadi 75% (2006) di Curitiba, Brazil (Eltis, 2014). Pengembangan TOD berbasis node and place index tidak hanya meningkatkan integrasi guna lahan dan transportasi, namun juga akan meningkatkan kualitas intermodal antarinfrastruktur transit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi-potensi stasiun kereta api dan terminal bis yang ada di Surabaya yang dapat dikembangkan sebagai transit oriented development atau TOD dalam upaya meningkatkan penggunaan angkutan umum. Konsep TOD akan mengarahkan kawasan untuk memiliki aktivitas campuran di sekitar lokasi transit (Calthorpe, 1992), mengetahui potensi lahan yang tersedia untuk pengembangan aktivitas-aktivitas tersebut (Russel, 2006), mengintegrasikan kawasan dengan akses pejalan kaki, feeder angkutan umum, maupun akses dengan moda angkutan umum massal (Eltis, 2014). Sementara itu, pengembangan TOD berorientasi node-place index akan memperbaiki kesetimbangan antara jaringan transportasi dan guna lahan pada kawasan transit (Reusser, 2008). Kondisi di kawasan-kawasan stasiun dan terminal di Kota Surabaya saat ini, ditandai dengan rendahnya akses pedestrian, kondisi lalu lintas sekitar yang buruk ditandai dengan kemacetan/kesemrawutan di sekitar kawasan, dan belum terintegrasinya kawasan pembangunan di sekitar transit point dengan simpul perpindahan transportasi umum pada kawasan (Handayeni, 2012). Rencana penelitian bersifat komprehensif yang meliputi kajian seluruh stasiun dan terminal atau subterminal di Kota Surabaya. Penelitian ini kemudian memetakan stasiun dan terminal tersebut berdasarkan potensi-potensi TOD stasiun dan terminal yang teridentifikasi, berbasis kesetimbangan node-place indeks. Tahapan penelitian meliputi identifikasi komponen-komponen transit oriented development pada 5 (lima) stasiun (Surabaya Kota, Gubeng, Pasar Turi, Tandes, Wonokromo) dan 4 (empat) terminal bis utama (Purabaya, Oso Wilangun, Joyoboyo, Bratang), serta 11 (sebelas) subterminal (Menanggal, Benowo, UKA, Balongsari, Manukan, Dukuh Kupang, Kalimas Barat, Keputih, Lakarsantri, Kedungcowek dan Perak). Setiap komponen TOD dianalisis menurut kriteria kesetimbangan node and place. Lebih lanjut, seluruh stasiun dan terminal dipetakan dalam kontinum node dan place indexnya dalam hubungannya dengan potensi stasiun/terminal tersebut dalam menghasilkan penggunaan angkutan umum yang tinggi. Pengumpulan data secara primer dilakukan di setiap kawasan transit pada radius 800 meter, meliputi data dan pengamatan detail meliputi: jumlah pengguna stasiun/terminal, observasi keberadaan pelayanan dalam radius 400 meter dan 800 meter serta intensitas bangunan seperti pusat perbelanjaan, retail, dokter, apotek, taman, restaurant, hotel, perpustakaan, kantor pos, sekolah, tempat ibadah, dll. Data sekunder meliputi data social ekonomi dan demografi pada kawasan 800 meter meliputi jumlah penduduk bekerja dan jumlah lapangan pekerjaan. Data melalui google street view untuk menilai keberadaan park and ride, perluasan parkir, luas lahan kosong berdasarkan kategori zonasi dalam radius 800 meter, jumlah dan intensitas kapling perumahan dan non-perumahan, tingkat aksesibilitas berdasarkan kriteria multimoda (konektivitas pejalan kaki, sepeda, angkutan umum lainnya). Penelitian ini akan menghasilkan pemetaan-pemetaan potensi stasiun dan terminal dengan qualitative comparative assessment atau QCA. QCA adalah suatu metode asimetrik pengelompokan atau cluster objek dengan menggunakan logika fuzzy atau Boolean algebra dalam menilai variable-variable yang diukur berdasarkan konfigurasi yang dikembangkan untuk mencapai outcome tertentu (Woodside, 2016). Dalam studi ini potensi infrastruktur transit didasarkan komponen TOD berbasis kesetimbangan node and place index dengan outcome atau target variable berupa penggunaan angkutan umum yang tinggi. Lebih lanjut, hasil pemetaan akan berguna untuk mengetahui kategorisasi infrastruktur transit ke dalam kelompok kontinum kesetimbangan guna lahan dan transportasi berdasarkan node and place indeks. Integrasi intermodal antar stasiun/terminal akan memungkinkan jika tercapai integrasi node and place melalui pengembangan infrastruktur transit. Dengan demikian, rekomendasi pengembangan infrastruktur transit di Surabaya agar penggunaan angkutan umum meningkat lebih terarah sesuai dengan potensi masing-masing kawasan transit pada setiap komponen TOD, baik dalam hal kepadatan, keragaman, perancangan guna lahan, potensi pengembangan guna lahan yang akan datang, maupun aksesibilitas multimoda kawasan.