2018 : PREDIKSI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA SPESIES TERANCAM PUNAH MENGGUNAKAN AVIAN CLIMATE ENVELOPE MODELS : ANALISIS SPASIAL PANTAI TIMUR SURABAYA SEBAGAI IMPORTANT BIRD AREA (IBA)

Aunurohim S.Si.,DEA.
Iska Desmawati S.Si., M.Si.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Perubahan iklim merupakan salah satu fenomena alam yang menjadi bahasan dalam topik-topik ilmiah beberapa tahun terakhir. Fenomena ini terkait dengan bagaimana perubahan iklim terjadi, proses dan dampaknya terhadap manusia, tumbuhan maupun hewan serta perkembangan berbagai macam fenomena alam baru yang selalu dikaitkan dengan perubahan iklim. Perubahan iklim global secara modern dapat diakibatkan oleh fenomena antropogenik dengan konsekuensi perubahan ekologi yang signifikan (La sorte dan W.Jetz , 2010) dan diprediksi dapat membuat 15-37% flora dan fauna yang masih ada menjadi punah pada tahun 2050 (Thomas et al. 2004). Prediksi kepunahan spesies dan perubahan habitat menjadi topik pokok dalam kajian dibidang mitigasi fenomena perubahan iklim sehingga terdapat beberapa macam kajian dan alat untuk mengetahui dampak fenomena tersebut. Salah satunya adalah penelitian mengenai climate envelope models yang merupakan suatu aspek dasar penting untuk mengetahui pola persebaran dan pengaruh perubahan iklim terhadap jenis-jenis hewan terancam punah salah satunya adalah avifauna migran global. Pemetaan, pemodelan dan karakterisasi preferensi avifauna tersebut dapat terbantu dengan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia. Salah satunya adalah kawasan pesisir di Pantai Timur Surabaya sebagai salah satu IBA (Important Bird Area) oleh Birdlife International (kode ID103) dengan status A4iii (Congregations). Kawasan tersebut merupakan daerah yang memiliki kelimpahan flora dan fauna terutama mamalia, burung dan mangrove dengan luas wilayah kurang lebih 2.490 ha. Pada penelitian sebelumnya (Penelitian Pemula 2016) telah diketahui terdapat 21 spesies avifaunabaik lokal maupun global yakni 2 famili besar (Scolopacidae dan Charadriidae). Pda penelitian tahun 2017 (Penelitian pemula 2017) diketahui terdapat 5 habitat utama avifauna tersebut yakni tambak, lumpur, rawa, mangrove dan pantai dengan 6 spesies yang ditemukan merupakan spesies avifauna migran lintas benua. Spesies avifauna terancam punah (global flyway) memiliki jalur migrasi yang panjang yang secara langsung maupun tidak langsung akan terpengaruh oleh perubahan iklim baik dari segi penurunan jumlah populasi, perubahan penggunaan habitat, pergeseran jalur terbang dan pola distribusinya. Penelitian tentang avian climate envelope models spesies avifauna terancam punah di Pantai Timur Surabaya merupakan salah satu bagian dari pengetahuan distribusi spesies sedangkan analisis spasial digunakan untuk mengkarakterisasi zona-zona dimana burung tersebut berasosiasi dalam habitatnya. Parameter yang diambil dalam penelitian ini adalah faktor lingkungan abiotik dan tipe habitat serta jenis-jenis spesies avifauna terancam punah yang terdapat di Pantai Timur Surabaya. Avian climate envelope models di analisa menggunakan software DIVA-GIS 7.5.0/Maxent (Logaritma) dengan faktor lingkungan yang akan digunakan berdasarkan WORLDCLIM yakni suhu dan curah hujan dan selanjutkan akan di tampilkan melalui peta menggunakan software ArcGIS. Spasial lanskap spesies avifauna terancam punah akan ditampilkan melalui peta distribusi avifauna menggunakan hasil GIS serta ilustrasi visual grafis untuk mengetahui preferensi habitat dan karakterisasinya. Sedangkan parameter faktor lingkungan yang lebih berpengaruh dianalisa dengan menggunakan metode ordinasi melalui program CANOCO for Windows 4.5 Penelitian ini diharapkan mampu mengetahui jenis-jenis spesies avifauna terancam punah, menganalisa prediksi distribusi, pola persebaran spesies avifauna terancam punah dan preferensi habitatnya. Peta yang akan dihasilkan dari penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi dasar komparasi dengan litelatur dan penelitian selanjutnya mengenai perubahan habitat yang telah terjadi di kawasan Pantai Timur Surabaya serta menjadi data acuan bagi pengelolaan wilayah konservasi baik skala lokal maupun secara global. Hal ini akan menjadi pendukung pengelolaan wilayah yang termasuk dalam kategori IBA (Important Bird Area).