2019 : Optimasi Daun Kelor Sebagai Inhibitor Organik Pada Baja API 5L Grade B dalam Lingkungan HCl denganVariasi Konsentrasi dan Temperatur

Prof. Dr. Ir. Sulistijono DEA.
Tubagus Noor Rohmannudin ST., M.Sc.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Salah satu jenis pengendalian korosi adalah dengan menggunakan inhibitor. Inhibitor banyak digunakan pada sektor industri karena sifatnya yang simpel dan efektif. Umumnya, inhibitor yang digunakan adalah inhibitor anorganik dengan kandungan molibdat, fosfat, silica dan triazol. Namun yang menjadi kendala dalam penggunaan inhibitor jenis ini adalah limbahnya yang bersifat racun dan dapat membahayakan lingkungan, sehingga penggunaannya harus dibatasi. Oleh sebab itu, inihibitor organik dapat menjadi solusi. Inhibitor organik bersifat ramah lingkungan sehingga limbahnya tidak berbahaya dan penggunannya dapat dioptimalkan. Inhibitor organik didapatkan dari ekstrak tanaman yang mengandung tanins, alkaloids, saponins, asam amino pigment dan protein. Kandungan-kandungan tersebut merupakan zat antioksidan yang dapat menghambat laju korosi (Martinez dan Stern, 2001; Martinez, 2002; Kosar et al., 2005; Oguzie et al, 2006). Tannin dapat diperoleh hampir dari semua jenis tumbuhan, dengan kadar yang berbeda beda, salah satunya adalah daun kelor (Moringa Oleifera). Tanamana ini memiliki kandungan vitamin A, C dan E yang tinggi (Hekmat et al, 2015) serta kandungan asam amino yanng tinggi pula (Moyo, 2011). Indonesia sebagai negara tropis, menjadi salah satu negara yang ditumbuhi subur oleh tanaman kelor. Ini berarti ketersediaan tanaman kelor di Indonesia sangat melimpah sehingga sangat berpotensi untuk dikelola. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh konsentrasi dan temperatur terhadap optimasi inhibisi tanaman kelor pada Baja API 5L grade B dengan kondisi lingkungan asam HCl. Penelitian ini menggunakan bahan alam tanaman kelor sebagai inhibitor organik. Karakterisasi kandungan bahan alam ini di uji dengan menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR). Selain itu, untuk mengetahui laju korosi dan proses inhibisi digunakan uji weightloss dan uji potensiodinamik. Uji XRD digunakan untuk mengetahui lapisan senyawa yang terbentuk pada sampel setelah dilakukan imersi. Uji SEM digunakan untuk mengetahui morfologi permukaan sampel saat proses imersi dengan dan tanpa inhibitor. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif inhibitor yang ramah lingkungan sehingga dapat diproduksi untuk diaplikasikan kedalam dunia industri. Kata Kunci: Inhibitor, Korosi, Daun kelor, API 5L Grade B,