2019 : AKTIFITAS ENZIM CARBOXYL ESTERASE PADA VARIASI TEMPERATUR DAN LAJU ALIRAN UDARA PAPARAN INHALASI PARTIKULAT DARI CAMPURAN SENYAWA PRALLETHRIN DAN d-PHENOTHRIN PADA HEWAN UJI MUS MUSCULUS

Prof. Ir. Joni Hermana M.Sc.ES., Ph.D.
Arie Dipareza Syafei ST., MEPM

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Beberapa ahli indoor air quality telah meneliti bahwa obat anti nyamuk signifikan menghasilkan polutan berupa partikulat/particulate matter (PM). Partikulat adalah kombinasi kompleks dari partikel padat dan aerosol di udara. Partikulat terdiri dari beberapa komponen seperti asam (nitrat dan sulfat), unsur kimia organic, logam, debu tanah [1] dan spora jamur [2,3]. Salvi et al. [4] menemukan bahwa obat anti nyamuk bakar signifikan menghasilkan partikulat halus. Penelitian epidemiologi menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara paparan partikulat terhadap manusia dan gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan dapat berupa gangguan pada sistem saluran pernafasan [5–8], sistem peredaran darah [9–12] bahkan dapat meningkatkan angka kematian [13–16].Li et al. [17] melakukan penelitian tentang resiko potensial paparan dari 4 jenis obat anti nyamuk terhadap manusia. Diaz [18] mengkaji tentang aspek efisiensi, keselamatan dan toksisitas dari obat anti nyamuk. Prallethrin dan d-phenothrin merupakan senyawa yang digunakan dalam obat anti nyamuk yang termasuk kategori pirethroid. Pirethroid sintetis mempunyai toksisitas yang relatif rendah pada mamalia [17,19–21]. Shafer et al. [22] menemukan bahwa pirethroid dapat menyebabkan behavioral dan developmental neurotoxicity, khususnya pada bayi dan anak-anak tergantung pada tahap perkembangan neuronnya. Beberapa piretroid terdaftar sebagai endocrine disruptors dan potensial karsinogenik [21]. Paparan piretroid di dalam ruangan terutama dari obat anti nyamuk dalam jangka waktu yang lama menunjukkan neurotoksisitas kronis pada permeabilitas bloodbrain barrier, dan menyebabkan kerusakan oksidatif pada otak [23,24] dan disfungsi kholinergik mengarah ke defisiensi belajar dan memori (Sinha et al., 2006). Enzim yang berperan dalam proses hidrolisis pirethroid adalah enzim karboksil esterase baik pada manusia maupun pada tikus (mouse dan rat) [25,26] yang merupakan parameter toksisitas pada metabolisme pirethroid. Beberapa penelitian menemukan bukti yang kuat bahwa paparan partikulat pada temperatur panas dan dingin, berhubungan dengan peningkatan resiko angka kesakitan dan angka kematian [27,28]. Pada umumnya hasil penelitian mengidentifikasi interaksi signifikan antara partikulat dan temperatur, yang menunjukkan efek kesehatan yang kuat paparan partikulat pada hari dengan temperatur tinggi Cheng and Kan [29]; Qian et al. [30] menemukan interaksi yang signifikan antara efek partikulat yang lebih tinggi pada hari dengan temperatur yang rendah (temperatur 15th persentil) dan angka kematian karena respiratori. Penelitian lain yang menemukan hasil yang berbeda adalah penelitian oleh Peng et al. [31] dan Stieb et al. [32], yang menemukan bahwa efek kesehatan lebih kuat pada paparan partikulat pada musim hangat (musim semi dan musim panas) daripada musin yang dingin (musim gugur dan musim salju). Sebaliknya penelitian lain menemukan bahwa efek kesehatan lebih besar pada paparan partikulat pada musim dingin (Oktober – Maret) daripada pada musim hangat (April – September) [33]. Hal ini sesuai dengan model paparan dan proses kimiawi di dalam ruangan, yang menjelaskan bahwa konsentrasi jumlah (number concentration) dari indoor secondary organic aerosol akan meningkat 2 kali lipat untuk setiap penurunan temperatur indoor [34]. Di lain pihak penelitian yang mengkondisikan temperatur (temperatur sebagai variabel penelitian) untuk meneliti toksisitas dan respon hewan uji dengan parameter konsentrasi enzim karboksilesterase terhadap pengaruh perubahan temperatur dan laju aliran udara masih sangat jarang dilakukan. Pada penelitian ini akan dikaji kedua hal tersebut, yaitu efek perubahan temperatur dan laju aliran udara terhadap konsentrasi enzim karboksil esterase pada hewan uji yang merupakan parameter toksisitas pada hewan uji.