2019 : Building Urban Resilience to Earthquake in Surabaya Stage 3: Shaping Proper Development Regulations for Surabaya Resilience

Adjie Pamungkas ST.,M.Dev.Plg, Ph.D

Year

2019

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Beberapa kajian bahaya kegempaan menunjukkan bahwa Kota Surabaya memiliki potensi terdampak bencana gempa bumi. Adanya Kendeng Thrust di sekitaran wilayah Surabaya menjadi salah satu indikasi potensi tersebut. Jika dilihat dari sejarah kegempaan, beberapa wilayah di sekitaran Surabaya terdapat pusat kejadian gempa seperti di Sidayu, Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo dengan skala antara VI-VII MMI. Dengan skala tersebut, dampak yang ditimbulkan dapat dikategorikan kedalam kerusakan ringan sampai sedang. Dengan demikian, tingkat bahaya di Surabaya dapat dikategorikan sebagai bahaya kecil ke sedang. Walaupun demikian, berdasarkan kajian tanah, Kota Surabaya didominasi oleh jenis tanah yang menyebabkan kemungkinan amplifikasi yang besar. Tingkat amplifikasi yang besar ini akan memudahkan perambatan getaran gempa. Kondisi tanah ini dapat dijadikan sebagai bagian dari kerentanan kota. Dengan amplikasi besar, tingkat kerentanan kota terhadap bahaya gempa bisa dimasukkan kedalam kategori sedang ke tinggi. Dengan melihat tingkat kebahayaan dan tingkat kerentanan di atas, pola risiko gempa di Surabaya memiliki potensi sedang ke tinggi. Kondisi ini juga diperparah oleh tingginya pertumbuhan kota yang belum sensitif terhadap bahaya gempa. Berbagai produk pembangunan kota seperti rencana tata ruang dan aturan bangunan di kota ini masih belum membahas bahaya kegempaan. Dengan demikian, di masa depan, tingkat risiko kegempaan diperkirakan akan semakin tinggi. Hasil penelitian tahap pertama mengenai penilaian indeks ketahanan institusi Kota Surabaya menunjukkan nilai rata-rata 4,02 (skala 1-5) untuk indeks ketahanan bencana secara umum. Hal ini menunjukkan performa institusi yang baik dalam menanggapi bencana. Namun spesifik pada jenis bencana gempa, indeks ketahanan menunjukkan nilai 2,58 yang berarti Surabaya belum siap dalam pengurangan risiko bencana gempa. Penyebab ketidaksiapan tersebut adalah informasi potensi ancaman gempa merupakan temuan baru. Informasi gempa yang terbatas menyebabkan upaya antisipasi bencana gempa belum terakomodasi dalam aturan Kota Surabaya, khususnya dalam rencana pembangunan. Untuk itu, upaya membangunan ketahanan kota (urban resilience) menjadi sangat penting untuk mencegah dan mengurangi dampak dari kerugian akibat bencana gempa. Pembangunan ketahanan kota akan sangat memungkinkan jika kota tersebut memiliki aturan-aturan pembangunan kota yang memperhatikan tingkat risiko kegempaan ini. Oleh karenanya, penelitian ini memiliki fokus utama untuk melakukan perubahan pada aturan-aturan pembangunan di Kota Surabaya untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap gempa di masa depan.