2018 : PENGEMBANGAN MODEL KOMPETISI ANTAR TERMINAL PETI KEMAS MENGGUNAKAN PENDEKATAN GAME THEORY

Firmanto Hadi ST.
Achmad Mustakim S.T., M.T., MBA

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Peningkatan volume petikemas salah satunya terjadi pada Pelabuhan Tanjung Priok yang mana pada tahun 2012-2015 mengalami penurunan rata-rata arus petikemas sebesar 7.8% dan pada tahun 2015-2016 arus petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok kembali mengalami peningkatan sebesar 9.5% atau sebesar 143,501 TEUS. Terminal Petikemas Indonesia. PT. JICT dan KSO TPK Koja terletak di Pelabuhan Tanjung Priok sehingga letak terminal berdekatan, sehingga hinterland antara JICT dan TPK Koja juga sama. Tren petikemas yang berkembang pesat mendorong adanya pengembangan terminal petikemas untuk berlomba-lomba dalam memberikan pelayanan dan fasilitas. Seperti contohnya pada fasilitas panjang dermaga, JICT lebih unggul yakni memiliki panjang dermaga sebesar 1,640 m sedangkan TPK Koja hanya memiliki panjang dermaga sebesar 650 m, namun dari segi lebar dermaga TPK Koja lebih unggul yakni sebesar 40 m sedangkan JICT hanya sebesar 35 m, lalu dari segi kapasitas container yard (CY) JICT lebih unggul yakni sebesar 39,884 TEUS sedangkan TPK Koja hanya sebsar 15,456 TEUS, dalam hal kedalaman dermaga antara kedua teminal tidak berbeda yakni 14 mLWS. Terciptanya kompetisi antar pelabuhan dapat ditandai dengan adanya perbedaan jumlah petikemas Internasional pada tahun 2014 yang dilayani JICT mencapai 2,372,470 TEUS dan KSO TPK Koja melayani sebesar 587,712 TEUS, sedangkan pada tahun 2015 JICT mengalami penurunan yakni hanya mampu melayani 2,223,179 sedangkan KSO TPK Koja meningkat mencapai 648,373 sedangkan pada tahun 2016 yang dilayani oleh JICT menurun kembali menjadi sebesar 2,144,398 TEUs dan untuk KSO TPK Koja juga mengalami penurunan yakni mampu melayani sebesar 561,895 TEUs. Salah satu pemicu terjadinya kompetisi pelabuhan ini adalah penyelenggaraan kegiatan pelabuhan yang diatur UU Pelayaran Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran disebutkan pelabuhan yang diusahakan secara komersil merupakan pelabuhan yang diselenggarakan lembaga OP yakni Badan Usaha Pelabuhan (BUP), dimana BUP itu sendiri dapat berupa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Swasta. Hal ini menjadi bukti bahwa kegiatan pelabuhan mengarah kepada liberalisasi dalam penyelenggaraannya. Isu Kompetisi antar operator pelabuhan menjadi menarik setelah dibukanya peluang swasta saat menjadi operator pelabuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kompetisi pelabuhan yang terjadi dari sisi pengembangan terminal petikemas yang tepat melalui pendekatan game theory. Melalui pendekatan game theory ini diharapkan dapat menjadi masukkan mengenai strategi dalam meningkatkan layanan pelabuhan untuk kedepannya.