2017 : PEMETAAN ZONA RAWAN BANJIR DAS (DAERAH ALIRAN SUNGAI) BENGAWAN SOLO DI BOJONEGORO\nSTUDI KASUS : ANALISIS MORFOLOGI SUNGAI DAN SEBARAN SEDIMEN DAERAH HILIR DAS BENGAWAN SOLO\n

Dr. Ayi Syaeful Bahri S.Si., M.T.
Moh. Singgih Purwanto S.Si., M.T.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Banjir adalah peristiwa genangan pada bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai akibat meluapnya air sungai yang tidak mampu ditampung oleh sungai. Bengawan Solo adalah sungai terpanjang di Pulau Jawa, Indonesia dengan dua hulu sungai yaitu dari daerah Pegunungan Sewu, Wonogiri dan Ponorogo, selanjutnya bermuara di daerah Gresik. Bojonegoro sebagai salah satu daerah bagian hilir dari DAS Bengawan Solo adalah wilayah yang paling besar terdampak banjir akibat meluapnya DAS Bengawan Solo. \nDAS Bengawan Solo memiliki peran dan fungsi strategis untuk mendukung keberlangsungan aktivitas manusia. DAS Bengawan Solo memiliki total 15.947 km2 yang meliputi 17 Kabupaten dan 3 kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kepadatan populasi di daerah Bengawan Solo mencapai 1.028 jiwa/km2. Area ini sering mengalami banjir yang menyebabkan dampak berat terhadap ekonomi dan infrastruktur hampir setiap tahunnya. Banjir yang sering terjadi di DAS Bengawan Solo diakibatkan oleh kerusakan lahan disekitar sungai yang disebabkan oleh pembukaan lahan untuk wilayah pertanian serta pembangunan wilayah sungai yang tidak sesuai dengan rencana tata guna lahan.\nDengan pemetaan morfologi sungai dapat diketahui arus pengendapannya dan sedimen yang mengalami transportasi serta bagian penumpukan sedimen. Pemetaan morfologi sungai dapat dilakukan dengan cara Sistem Informasi Geografis (SIG), menggunakan sonar untuk mengetahui kedalaman sungai, pemetaan foto udara menggunakan citra Landsat dan pengambilan sampel sedimen untuk diteliti karakteristiknya. Integrasi pemetaan tersebut akan menghasilkan peta zona rawan banjir pada DAS Bengawan Solo bagian hilir yang ada pada wilayah Bojonegoro\n