2018 : PENGEMBANGAN MODEL SKENARIO MITIGASI EMISI GAS RUMAH KACA PADA SEKTOR TRANSPORTASI DI KOTA SURABAYA DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK

Ir. Sardjito MT
Siti Nurlaela ST., M.Com
Arwi Yudhi Koswara ST., M.T.
Niniet Indah Arvitrida ST, MT.
Ketut Dewi Martha Erli Handayeni ST., MT.


Abstract

Produksi emisi GRK pada sektor transportasi di Indonesia diprediksi semakin meningkat hingga mencapai 180 juta ton pada tahun 2030. Hal ini bersumber dari konsumsi energi yang semakin meningkat akibat penggunaan kendaraan bermotor yang jumlahnya semakin meningkat pula. Kegiatan manusia pada sektor transportasi merupakan sumber utama produksi emisi GRK di Indonesia. Pada tahun 2020, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26% dari tingkat Business as Usual (BAU) dengan usaha sendiri, dan mencapai 41% apabila mendapat dukungan internasional. Komitmen ini diperkuat lagi dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No.61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Penurunan Emisi GRK. Pada tingkat daerah, provinsi dan kabupaten/kota wajib mendukung komitmen ini melalui penyusunan RAD (Recana Aksi Daerah) Penurunan Emisi GRK. Pada Rencana Aksi Daerah (RAD) Jawa Timur menargetkan penurunan emisi karbon di sektor energi dan transportasi sebesar 5,22% atau 6.190.738,9 ton CO2 eq pada tahun 2020. Hal ini membawa konsekuensi perlunya peran aktif Kota Surabaya dalam mendukung upaya mitigasi karbon ini. Kota Surabaya sebagai kota terbesar di Jawa Timur, sektor transportasi menyumbang 5,48 juta ton per tahun emisi karbon atau sekitar 96% dari total emisi udara di Kota Surabaya. Oleh karena itu diperlukan strategi penurunan emisi gas rumah kaca pada sektor transportasi di Kota Surabaya. Salah satu strategi penurunan emisi GRK yang tertuang dalam RAD Jawa Timur adalah penataan guna lahan yang dapat mengurangi jarak perjalanan yang tidak perlu (trip demand management). Pola penggunaan lahan merupakan representasi dari pola ruang kota yang dapat mempengaruhi dekat jauhnya jarak perjalanan. Pola ruang Kota Surabaya masih menunjukkan gejala pembangunan kota yang acak (sprawl), sehingga banyak ditemukan pola perjalanan dengan jarak yang panjang dari pinggiran kota (sub-urban) menuju pusat kota dengan menggunakan kendaraan bermotor. Hal ini dapat berdampak pada tingginya konsumsi energi dan produksi emisi karbon pada sektor transportasi. Pola ruang yang kompak (compact city) dipandang sebagai alternatif utama yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan kendaraan bermotor. Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Handayeni (2014) menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara pola kekompakan ruang dengan tingkat emisi GRK pada sektor transportasi di Kota Surabaya. Wilayah dengan kekompakan ruang yang rendah menunjukkan pola perjalanan yang panjang dan motorisasi tinggi, sehingga penggunaan energi semakin besar dan emisi karbon semakin besar pula. Oleh karena itu, perlu dikaji bagaimana skenario mitigasi emisi gas rumah kaca pada sektor transportasi dapat ditentukan melalui pengembangan ruang kota yang kompak di Kota Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model sistem dinamik yang dapat digunakan untuk menentukan skenario mitigasi emisi gas rumah kaca melalui pendekatan penataan guna lahan yang dapat mengurangi jarak perjalanan yang tidak perlu (trip demand management) di Kota Surabaya. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penentuan kebijakan dalam upaya mitigasi karbon pada sektor transportasi di Kota Surabaya, mengingat Kota Surabaya dijadikan proyek percontohan mengenai Low Carbon City. Disamping itu, hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah keilmuan perencanaan kota dalam kaitannya dengan upaya mitigasi karbon, mengingat langkanya penelitian yang mengaitkan pola ruang kota dengan emisi gas rumah kaca di Indonesia. Kata kunci: model skenario mitigasi, gas rumah kaca, sistem dinamik, penggunaan lahan