2018 : Kajian Auto Combustion atau Self Burning Sampah Plastik Non Reuseable dalam Sistem Insinerasi

Dr. Ir. Agus Slamet M.Sc
Prof. Ir. Joni Hermana M.Sc.ES., Ph.D.
Dr. Ir. Rachmat Boedisantoso MT.
Dr. Abdu Fadli Assomadi S.Si., MT.
Arie Dipareza Syafei ST., MEPM


Abstract

Semakin meningkatnya jumlah sampah berbahan plastik yang terdistribusi di lingkungan telah menyebabkan degradasi media air dan tanah secara signifikan. Sebagian besar saluran drainase dan sungai yang berinteraksi dengan aktivitas domestik, telah tercemar plastik. Di TPA dan wilayah lain yang berkaitan dengan aktivitas domestik juga sebagian besar telah tercemar plastik. Kuantitas plastik dalam komposisi sampah diperkirakan telah mencapai 10 – 15 % dari municipal solid waste. Sifat non degradable, kekuatan, dan ringan dari plastik menyebabkan penggunaannya semakin besar. Pengelolaan sampah plastik yang telah dilakukan hingga saat ini belum mampu mereduksi pencemaran plastik dengan signifikan. Penggunaan kembali dan program daur ulang belum memberikan kontribusi yang besar pada berkurangnya sampah plastik. Pembakaran sampah plastik (incinerasi) juga telah diterapkan dalam pengelolaan sampah. Incinerasi sampah plastik merupakan cara yang cukup cepat mengurangi penumpukan sampah, namun dampak emisi gas hasil pembakaran cukup besar. Beberapa gas karsinogen seperti dioksin dan furan, teremisikan dari proses pembakaran plastik, dan berbahaya bagi kesehatan lingkungan. Konversi plastik menjadi energi dengan pirolisis membutuhkan tambahan energi luar yang cukup besar, sehingga seringkali proses ini tidak ekonomis dan efisien. Di lapangan, sampah plastik masih sangat besar menumpuk dan mencemari lingkungan dan akan terus meningkat. Pada penelitian ini diusulkan pengelolaan sampah plastik dengan incinerasi yang didesain pembakarannya seefisien dan sesempurna mungkin, dengan mengutamakan kemudahan dalam operasional. Tahap awal adalah menentukan kriteria desain sistem pembakaran sampah plastik non reuseable. Beberapa variabel digunakan antara lain bentuk ruang pembakaran, komposisi plastik sebagai umpan pembakaran, dan air excess. Ketiga variabel ini diuji untuk mendapatkan hasil analisis yang terbaik dalam proses insinerasi. Analisis ini didasarkan pada hasil pengukuran parameter uji (kontrol) yaitu suhu ruang bakar dan kandungan pencemar (dioksin dan furan) pada gas emisinya. Hasil penelitian dengan uji variabel yang mendapatkan nilai parameter kontrol paling baik adalah acuan kriteria desain yang optimum. Dengan demikian, dari uji variabel-variabel dalam penelitian akan ditentukan perlakuan mana yang menghasilkan suhu pembakaran tertinggi dan emisi terendah, sebagai kriteria desain optimumnya. Hasil penelitian ini selanjutnya akan digunakan dasar pada penelitian selanjutnya yaitu absorber emisi incinerasi dan desain green incinerator.