2020 : PENEMUAN FAKTOR KEGAGALAN PROSES REQUIREMENT ENGINEERING PADA PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK DI LINGKUNGAN PEMERINTAHAN MENGGUNAKAN METODE FAULT TREE ANALYSIS

Ir. Khakim Ghozali M.MT

Year

2020

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Salah satu tahap pada siklus hidup pengembangan perangkat lunak secara umum adalah Requirement Engineering (RE) yakni rekayasa kebutuhan dari pengembangan perangkat lunak. RE merupakan proses dimana software developer atau pengembang mendefinisikan sistem yang akan dibuat atau dikembangkan. Kunci dari kesuksesan proyek pengembangan perangkat lunak adalah kemampuan tim proyek untuk memenuhi kebutuhan yang dimaksudkan oleh client atau pelanggan. Sesuai dengan tujuan dari RE yakni mendefinisikan sistem yang akan dibuat, maka seharusnya kebutuhan tersebut tidak memiliki makna ganda agar dapat didefinisikan dengan baik dan diketahui oleh setiap bagian dari tim proyek, sehingga perangkat lunak yang akan dikembangkan dapat sesuai dengan tujuan dari pengembangan perangkat lunak tersebut atau tidak terjadi software defect. Proses Requirement Engineering memiliki peran penting terhadap pembuatan perangkat lunak dan perlu menerapkan praktik RE pada setiap tahap proses pengembangan perangkat lunak. Hal ini dikarenakan proses RE berperan untuk menentukan tujuan, fungsi, dan batasan dari pembuatan perangkat lunak dari berbagai sudut pandang peran, tanggungjawab dan tujuan. Namun, kegagalan dalam pengembangan perangkat lunak pada umumnya dikarenakan perangkat lunak yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan diawal (garbage in garbage out). Berdasarkan survey yang dilakukan oleh IAG Consulting, data menunjukkan bahwa pengumpulan dan penentuan kebutuhan yang salah menjerumuskan 68% dari perusahaan pada kegagalan proyek sebelum proyek pernah benar-benar diimplementasikan. Hasil pengembangan perangkat lunak yang tidak sesuai dikarenakan proses RE yang tidak berjalan dengan baik. Dimana kebutuhan perangkat lunak tidak didefinisikan dengan baik oleh klien, memiliki makna ganda, dan terus bertambah selama proses pengembangan perangkat lunak. Kegagalan proses RE pada proyek pengembangan perangkat lunak berlaku juga pada proyek pengembangan perangkat lunak di lingkungan pemerintahan Indonesia. Pemerintah pusat baik secara formal melalui inpres dan peraturan perundangan maupun secara informal melalui himbauan meminta agar pemerintah daerah memanfaatkan e-Government untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas jalannya pemerintahan. Hal tersebut menyebabkan banyak pemerintah daerah berupaya untuk mengimplementasikan e-Government dalam lingkungan pemerintahan masing-masing. Proyek pemerintah tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit bahkan bisa mencapai angka miliaran. Faktanya sedikit proyek pemerintah terkait pengembangan perangkat lunak yang berhasil diimplementasikan. Hasil survey oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika Repulik Indonesia pada provinis Jawa Barat didapatkan 71,42% kabupaten/kota masih kurang dalam implementasi e-Govenrment. Ketidakberhasilan implementasi proyek e-Government menyebabkan kerugian dari segi materi dan sumber daya lainnya dan hal ini menyalahi konsep good governance dalam hal pengelolaan finansial pada instansi pemerintah. Sehingga pengembang perangkat lunak harus mengetahui penyebab dari kegagalan proses Requirement Engineering yang merupakan langkah awal dalam menghasilkan produk perangkat lunak yang berkualitas. Dalam hal ini, kualitas perangkat lunak adalah perangkat lunak yang bebas dari software defect dan sesuai dengan kebutuhan pengguna (dalam hal ini yang dimaksud adalah instansi pemerintah). Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor kegagalan proses RE pada proyek pemerintahan terkait proyek pengembangan perangkat lunak dengan menggunakan Fault Tree Analysis (FTA) dan Skala Likert. Metode Fault Tree Analysis digunakan untuk mengetahui penyebab kegagalan dari proses Requirement Engineering. Metode ini memiliki kemiripan dengan Fishbone, namun dengan menggunakan metode FTA dapat diketahui hubungan penyebab kegagalan dengan aktifitas atau kegiatan yang tidak diinginkan untuk terjadi (undesired event). Sedangkan metode Skala Likert untuk pembobotan setiap klasifikasi faktor dan faktor yang sangat berpengaruh dalam kegagalan proses RE yang secara langsung dapat mempengruhi kualitas perangkat lunak yang dihasilkan. Kata Kunci: e-government; Fault Tree Analysis; Implementasi Perangkat Lunak; Kegagalan; Proyek Pemerintah; Requirement Engineering; Root Cause; Undesired Evet.