2017 : PEMETAAN KONDISI EKOSISTEM MANGROVE TERHADAP KUALITAS AIR TELUK LAMONG YANG BERPOTENSI UNTUK KELANGSUNGAN HIDUP BIOTA LAUT PADA LAHAN AKUAKULTUR\n(Studi Kasus: Pesisir Utara Surabaya) \n\n

Prof. Dr. Ir. Bangun Muljo Sukojo DEA.DESS
Husnul Hidayat S.T., M.T.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Indonesia menjadi negara dengan hutan mangrove paling luas di dunia. Menurut FAO (2007) pada tahun 2005 Indonesia memiliki hutan mangrove seluas 3 juta ha. Mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora dan fauna di daerah pantai atau batas pasang surut air laut. Mangrove merupakan vegetasi yang berpengaruh dalam ekosistem di daerah pesisir. Karena Indonesia merupakan negara maritim yang cukup luas, maka banyak ditemukan konservasi mangrove mengelilingi daerah pesisir Indonesia. Dengan adanya mangrove, area pesisir terlindung dari abrasi serta banjir. Selain itu mangrove berfungsi sebagai sumber makanan dan tempat untuk hidup serta tempat memijah, hal ini dapat dilihat dari beraneka ragamnya fauna yang tergantung pada ekosistem mangrove baik langsung maupun tak langsung. Sehingga keadaan dan keberadaan hutan mangrove sangat penting untuk kelangsungan hidup biota laut lainnya.\nNamun Seiring berkembangnya Kota Surabaya menyebabkan terjadinya desakan pembangunan yang cenderung mengarah ke arah pantai atau pesisir yang membuat kondisi air laut di Teluk Lamong menjadi tercemar sehingga telah mengancam keberadaan ekosistem mangrove di pesisir Utara Surabaya. Terancamnya keberadaan ekosistem mangrove juga menjadi ancaman bagi biota laut lainnya. Sehingga perlu adanya studi untuk pemetaan kondisi ekosistem mangrove agar biota laut yang tergantung hidupnya terhadap mangrove dapat dipertahankan keberlangsungannya.\nSeiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang semakin pesat, kebutuhan informasi harus memenuhi persyaratan yakni relevan, tepat waktu, handal, dan mutakhir sehingga informasi tersebut bermanfaat secara optimal bagi pihak pengguna dalam proses pengambilan keputusan. Pemetaan kondisi mangrove secara cepat dan tepat dapat menggunakan teknologi penginderaan jauh yaitu dengan memanfaatkan data citra satelit resolusi menengah maupun resolusi tinggi. \nData yang digunakan untuk pemetaan kondisi ekosistem mangrove di pesisir utara Surabaya adalah data citra satelit resolusi menengah Landsat-8, dan data citra satelit resolusi tinggi Pleiades 1A serta data observasi lapangan berupa titik GCP, Spektral ground dan parameter kualitas air. Dari data citra satelit akan dilakukan klasifikasi kelas kerapatan kanopi vegetasi mangrove dengan menggunakan metode indeks vegetasi NDVI dengan menggunakan rumus algoritma sebagai berikut (NIR-RED)/(NIR+RED) yang kemudian akan dilakukan uji korelasi dengan data observasi lapangan berupa nilai reflektant dilapangan dan parameter kualitas air. \nTujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah memetakan kondisi ekosistem mangrove terhadap kualitas air teluk lamong di pesisir utara Surabaya kemudian menganalisis dengan kondisi tersebut apakah berpotensi untuk keberlangsungan hidup biota laut. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah adanya informasi geospasial dasar berupa peta kondisi ekosistem mangrove tahun 2013, 2014, 2015 dan 2016. Sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan untuk keberlangsungan hidup biota laut dan dapat digunakan sebagai referensi penelitian yang terkait dengan bidang pemetaan, konservasi dan pengembangan ekosistem mangrove.\n