2017 : Uji Kualitas Benih dan Struktur Bibit Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum) Varietas Marakot Yang Diinduksi dengan Mutagen Kimia EMS ( Ethyl Methane Sulphonate)\n

Kristanti Indah Purwani S.Si., M.Si
Nurul Jadid S.Si., M.Sc
Wirdhatul Muslihatin S.Si., M.Si.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tembakau. Sebagian besar perekonomian negara didukung oleh tembakau. Peningkatan produksi tembakau perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas tanaman tembakau sehingga tembakau produksi lokal dapat laku di pasar dalam negeri maupun ekspor ke luar negeri. Kondisi iklim dan cara bercocok tanam belum menjadi jaminan bahwa tanaman dapat berproduksi secara optimal dan kegiatan usaha tani yang dilakukan akan berhasil. Penggunaan benih bermutu dari varietas unggul sangat menentukan keberhasilan peningkatan produksi tanaman.\nUpaya mendapatkan varietas unggul baru melalui pemuliaan tanaman perlu didukung adanya keanekaragaman genetik tanaman yang tinggi, . Peningkatan keanekaragaman genetik tanaman dapat dilakukan melalui introduksi, hibridisasi, induksi mutasi dan rekayasa genetika. Induksi mutasi dapat dilakukan dengan menggunakan mutagen fisik atau kimiawi. Mutagen fisik yang sering digunakan adalah ionisasi sinar alpha, beta, gamma, fast neutron, elektron beam dan ion beam, sedangkan mutagen kimia adalah sulphur mustard, Colchisine, EMS dan DES (Crowder, 1993). EMS (Ethyl Methane Sulphonate) paling banyak digunakan karena sering menghasilkan mutan yang bermanfaat dan tidak bersifat mutagenik setelah terhidrolisis (Van Harten, 1998).\n Oleh karena itu diperlukan penelitian konsentrasi EMS yang tepat untuk mendapatkan mutan tanaman tembakau dengan keanekaragaman genetik dan viabilitas tinggi serta tingkat kematian (mortalitas) yang rendah sehingga diharapkan terjadi peningkatan kualitas benih dan bibit tanaman tembakau. \nPada penelitian ini, dilakukan induksi mutasi pada benih tanaman tembakau varietas Marakot dengan variasi mutagen kimia EMS yang berbeda, yaitu 0,1%, 0,5%, 1,0%, dan 1,5%. Benih kemudian diuji viabilitas dan vigoritasnya lalu ditumbuhkan hingga menjadi bibit umur 45 hari kemudian diamati morfologinya. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis menggunakan ANOVA One Way.\n