2018 : KAJIAN LANJUT INTERAKSI HERBIVORI PADA EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN MANAJEMEN ADAPTIF UNTUK KONSERVASI MANGROVE DI WILAYAH PESISIR JAWA TIMUR

Indah Trisnawati Dwi Tjahjaningrum S.Si., M.Si., Ph.D
Mukhammad Muryono S.Si., M.Si., Ph.D
Iska Desmawati S.Si., M.Si.


Abstract

Lingkungan estuari dan pesisir di Indonesia dianggap rentan terhadap perubahan lingkungan, terutama dampak dari fenomena perubahan iklim. Posisi lahan basah intertidal mangrove di wilayah pesisir menyebabkan habitat tersebut sensitif dan rentan terhadap dampak perubahan iklim, khususnya perubahan muka air laut, meskipun faktor-faktor lainnya juga akan memberikan pengaruh yang kuat pada lahan basah tersebut. Peningkatan suhu udara dan suhu air laut, kenaikan permukaan air laut, perubahan sirkulasi laut, pola dan frekuensi curah hujan, dan intensitas badai kemungkinan besar mempengaruhi fisiologi, ekologi dan akhirnya pada stabilitas habitat lahan basah mangrove. Selain itu, lahan basah mangrove juga telah menghadapi peningkatan beban (pengayaan) nutrien dari aktivitas manusia. Stres yang disebabkan oleh perubahan iklim dan pengayaan nutrien merupakan ancaman utama terhadap lingkungan lahan basah intertidal mangrove di Indonesia, terutama di wilayah pesisir Pantai Timur Surabaya. Kerentanan dapat ditunjukkan dengan perubahan komposisi komunitas biotik, species ranges, kelimpahan, fenologi dan penurunan produktivitas biomassa pada komunitas lahan basah. Beberapa literatur telah menunjukkan bahwa hubungan tumbuhan, serangga herbivora dan perubahan iklim merupakan asosiasi yang signifikan dan juga mampu menggambarkan proses perubahan ekosistem yang terjadi. Serangga herbivora merupakan hewan sebagai tingkat trofik penting bagi stuktur dan berfungsinya ekosistem. Hal ini disebabkan karena serangga herbivora memiliki sistem respon dan tingkat kepekaan yang tinggi pada perubahan lingkungan, seperti suhu, kekeringan, curah hujan, kenaikan CO2, serta ketersediaan dan dinamika nutrien pada vegetasi tumbuhan. Efek tidak langsung terjadi pada beberapa aspek, seperti perubahan riwayat hidup serangga dan pola herbivori. Perubahan iklim merupakan fenomena jangka panjang yang berkembang pesat, dan terdapat banyak pengetahuan tentang perubahan iklim yang telah dihasilkan di beberapa negara, oleh lembaga dan individu melakukan kegiatan yang berkaitan dengan fenomena tersebut. Manajemen Adaptif Sumber Daya (Adaptive Resource Management) atau Penilaian dan Manajemen Adaptif Lingkungan (Adaptive Environmental Assessment and Management) merupakan proses pengambilan keputusan terstruktur dan berulang dalam menghadapi ketidakpastian, dengan tujuan untuk mengurangi ketidakpastian dari waktu ke waktu melalui sistem pemantauan lingkungan. Karena lamanya proses inisiasi dari program pengelolaan terpadu daerah pesisir serta karakter yang dinamis dari daerah pesisir, maka pendekatan Manajemen Adaptif ini menjadi penting agar program pengelolaan tersebut tetap berlangsung dengan fleksibel. Pendekatan yang fleksibel dimaksudkan untuk dapat dimodifikasi dan disesuaikan saat masuknya informasi baru, sehingga skema pengelolaan tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu. Dengan adanya berbagai perbaharuan informasi dampak perubahan iklim dan stres lingkungan lain, seperti strategi adaptasi, teknologi dan mekanisme monitoring, memungkinkan untuk mendeteksi perubahan dan tren fenologi biota pada tingkat populasi dan perubahan rentang distribusi spesies. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan kajian lanjut interaksi herbivori, yaitu antara tumbuhan mangrove dan serangga herbivora, dalam ekosistem mangrove binaan yang dikelola petani di sekitar Kampus ITS. Hasil kajian ini dapat digunakan sebagai informasi lanjutan yang penting berkaitan dengan status kerentanan herbivori akibat perubahan curah hujan serta akibat dinamika ketersediaan nutrien hara. Informasi tersebut nantinya dapat digunakan sebagai model respon dan kapasitas adaptif biota, untuk tujuan akhir pengembangan manajemen adaptif bagi aplikasi pengelolaan terpadu wilayah pesisir di Jawa Timur serta rekomendasi desain adaptasi habitat terhadap dampak perubahan iklim dan lingkungan, khususnya di daerah pesisir.