2019 : Pemetaan Karakter dan Kebutuhan Anak Inklusi sebagai Dasar Perencanaan Modul Terapi Sensori Integrasi pada Hunian

Ir. Prasetyo Wahyudie MT.
Dr.Ir. Susy Budi Astuti MT.
Ir. Nanik Rachmaniyah
Aria Weny Anggraita ST., M.MT
Lea Kristina Anggraeni S.T., M.Ds.


Abstract

Sensori integrasi (SI) pertama kali dicetuskan oleh A. Jean Ayres, pada tahun 1972 suatu model perkembangan manusia, mulai dari sensasi indera penglihatan, penciuman, perabaan, pendengaaran, pembau, ditambah dengan keseimbangan dan grafitasinya (proprioseptif) dan kesadaran gerakan tubuh atau rasa sendi (vestibular). Tujuh elemen ini menjadi dasar dari SI. SI secara sederhana dapat dipahami sebagai proses mengenal, mengubah, dan membedakan sensasi dari sistem sensori untuk menghasilkan suatu respons berupa “perilaku adaptif bertujuan� Respon adaptif seorang anak, merupakan dasar berkembangnya keterampilan yang lebih komplesk. Anak-anak dapat merespon input sensori dan mengetahui bagaimana harus bertindak untuk keselamatan dan kebaikannya, hal ini lah yang menjadi modal bertahan hidup. Kebutuhan ini semakin besar bagi anak inklusi, karena beberapa sensori dasar belum berkembang optimal, sehingga memerlukan bantuan dari orang lain. Rangsangan sensori untuk melatih dan meningkatkan sensori pada lima indera dasar anak. Rangsangan sensori dapat diterapkan pada berbagai area, baik interior dan eksterior, baik lingkungan indoor maupun outdoor. Tahapan SI pada anak secara umum adalah sama, namun pada anak inklusi, perlu untuk mempertimbangkan kemampuan anak dan karakter serta kebutuhan berdasark fisiologis dan psikologis anak. Semakin sering dilatih, semakin besar kesempatan untuk mengejar ketinggalan pada SI anak inklusi. Proses pemahaman pada anak, dimulai dengan tahapan meniru dan berkembang kepada berpikir. Pada tahapan meniru suatu aktifitas, semakin anak sering melihat obyej, dan menggunakannya dalam beraktifitas, maka kelekatan terhadap obyek semakin besar dan semakin mudah untuk dilakukan. Rumah adalah salah satu tempat yang optimal untuk membiasakan suatu aktifitas bagi anak inklusi mengembangkan sensor integrasinya. Sensori integrasi pada anak yang akan dioptimalkan pada penelitian ini terdiri dari empat sistem sensori, yaitu perabaan (tactile), pendengaran (auditory), proprioseptif dan vestibular. Langkah yang akan diterapkan adalah dengan memetakan fisiologis dan karakter anak inklusi, salah satunya adalah down syndrome, dan cerebal palsy. Pemetaan fisiologis dan karakter anak, dilakukan dengan cara observasi lapangan, studi literasi, wawancara mendalam dengan dokter anak, praktisi anak berkebutuhan khusus/terapis dan orangtua. Selanjutnya dari pemetaan, akan menjadi dasar dalam merencanakan modul sensori integrasi yang dapat diterapkan pada hunian. Penerapan modul pada hunian dapat didesain untuk memiliki fungsi terapi SI bagi anak inklusi dan estetika pada hunian. Modul terapi SI yang diterapkan pada hunian dapat berupa modul massif maupun dapat dipindahkan, diaplikasikan sebaga elemen estetis, furnitur maupun melekat pada envelope interior (lantai dan dinding). Kata kunci : anak inklusi, fisiologis, psikologis, sensori integrasi,