2018 : KONSEP PENATAAN KAWASAN SEKITAR MAKAM SUNAN KUDUS SEBAGAI HERITAGE TOURISM

Dr. Ing. Ir. Haryo Sulistyarso
Putu Gde Ariastita ST. MT.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Konsep atau teori mengenai konservasi banyak mengungkapkan obyek yang bersumber pada suatu bangunan (single building) secara akrsitektural (Pearce, 1989). Konservasi kawasan di kota dengan demikian harus mempertimbangkan area yang lebih luas yaitu lingkungan kota (urban space) dan dalam lingkup pendekatan manajemen urban. Kawasan sendiri merupakan bagian dari sebuah kota, dan biasanya mempunyai ciri-ciri lokasi geografisnya. Konsep pelestarian kawasan bersejarah dan salah satu bagian dari kota bersejarah (Supriharjo, dkk, 2011). Peninggalan sejarah pada suatu kawasan mencerminkan akan kisah aau sejarah, tata hidup, budaya dan peradaban suatu masyarakat di kawasan tersebut (Indrawati, 2008). Seperti halnya pada Kota Kudus yang merupakan salah satu pusat perkembangan Islam di Pulau Jawa. Di mana pada zaman perkembangan Islam, Sunan Kudus mulai menata Kota Tua Kudus yang berpusat pada Menara Masjid Kudus yang didekatnya terdapat kompleks padepokan Sunan Kudus. Disekeliling area tersebut merupakan rumah-rumah penduduk yang berarsitektur Jawa, yaitu rumah adat kudus atau gebyok dan sebagian terpengaruh oleh gaya Belanda. Kawasan permukiman disekitar Menara Masjid Sunan Kudus dan Makam Sunan Kudus ini berpotensi memiliki kaitan sejarah pada zaman perkembangan Islam dibawa oleh Sunan Kudus maupun terpengaruh oleh zaman kolonial. Namun, saat ini kawasan tersebut belum memiliki deliniasi dan penataan secara khusus untuk menunjang wisata cagar budaya Menara Masjid Kudus dan Makam Sunan Kudus. Hal tersebut terlihat dari kebiasaan para pengunjung yang hanya datang untuk berziarah ke Makam Sunan Kudus. Disamping itu terdapat cagar budaya Patiayam yang telah ditetapkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa Tengah melalui Surat Keputusan Nomor Nomor 988/102.SP/BP3/P.IX/2005. Kawasan Situs Cagar Budaya Patiayam ini juga telah ditetapkan dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Kudus sebagai pengembangan kawasan wisata. Namun, cagar budaya Patiayam ini belum memiliki konektifitas dengan kawasan cagar budaya Makam Sunan Kudus. Jika dilihat dari pekembangan sejarahnya, Kawasan Menara Masjid Sunan Kudus dan Makam Sunan Kudus merupakan pusat kota yang dibentuk pada zaman kejayaan Sunan Kudus yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua Kudus. Melihat nilai sejarah yang dimiliki oleh kawasan cagar budaya Makam Sunan Kudus dan Menara Masjid Kudus, maka diperlukan deliniasi dan penataan kawasan untuk melindungi dan melestarikan nilai sejarah terserbut. Kata Kunci: Urban Heritage, Penataan Kawasan, Heritage Tourism