2017 : MUSIM MIGRASI BURUNG DAN STATUS KERENTANAN TERHADAP SERANGGA HERBIVORA : INOVASI DALAM PENGEMBANGAN CLIMATE CHANGE KNOWLEDGE MANAGEMENT (CCKM)

Aunurohim S.Si.,DEA.
Indah Trisnawati Dwi Tjahjaningrum S.Si., M.Si., Ph.D

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Perubahan iklim berupa peningkatan konsentrasi CO2 atmosfer telah mengakibatkan terjadinya peningkatan temperatur atmosfer secara global (diperkirakan peningkatan sampai sebesar 2 – 4,50C pada tahun 2100) dan perubahan pada pola curah hujan. Bukti-bukti ilmiah yang kuat menunjukkan bahwa iklim global telah mengalami perubahan, dan aktivitas manusia semakin memperburuk perubahan tersebut, dimana perubahan yang akan datang diperkirakan berdampak signifikan terhadap ekosistem, sistem fisik, dan tindakan manusia. Berbagai jenis perubahan iklim akan memberi peluang adaptasi bagi beberapa hal tetapi dapat pula meningkatnya kerentanan pada hal lain, terutama bagi area marginal. Indonesia sebagai negara kepulauan termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti perubahan pola curah hujan, kenaikan muka air laut, dan suhu udara. Perubahan iklim akan menyebabkan seluruh wilayah Indonesia mengalami kenaikan suhu udara, dengan laju yang lebih rendah dibanding wilayah subtropis; wilayah selatan Indonesia mengalami penurunan curah hujan, sedangkan wilayah utara akan mengalami peningkatan curah hujan. Perubahan pola hujan tersebut menyebabkan berubahnya awal dan panjang musim hujan. Fenomena El Nino dan La Nina sebagai sangat berpengaruh terhadap kondisi cuaca/iklim di wilayah Indonesia dengan geografis kepulauan. \nSerangga herbivora merupakan hewan dengan jumlah seperempat dari seluruh organisme di bumi yang merupakan trofik penting bagi stuktur dan fungsi ekosistem. Pustaka telah membuktikan bahwa herbivora dan perubahan iklim merupakan hubungan yang signifikan yang juga mampu menggambarkan proses perubahan ekosistem yang terjadi. Hal ini disebabkan karena serangga herbivora memiliki sistem respon dan tingkat kepekaan yang tinggi pada perubahan lingkungan, seperti suhu, kekeringan dan kenaikan CO2. Burung migran dipengaruhi faktor perubahan iklim yang terkait waktu circardian migrasi musiman yang menjadi waktu bagi burung untuk mencari makan melintasi benua dan Pantai Timur Surabaya (terutama Wonorejo) merupakan tempat transit bagi burung migran tersebut. Jika terjadi perubahan iklim yang cukup signifikan, dapat di indikasikan kemungkinan terjadinya suatu tekanan yang akan dialami oleh burung migran sehingga spesies tersebut akan melakukan mekanisme adaptasi. Pola perubahan iklim yang tidak menentu inilah yang dikhawatirkan akan mengakibatkan perubahan terhadap pola migrasi burung migran.\nPerubahan iklim merupakan fenomena jangka panjang yang berkembang pesat, dan terdapat banyak pengetahuan tentang perubahan iklim yang telah dihasilkan di beberapa negara, oleh lembaga dan individu melakukan kegiatan yang berkaitan dengan fenomena tersebut. Climate Change Knowledge Management (CCKM) merupakan pengelolaan yang melibatkan proses (efisiensi), masyarakat, sistem dan teknologi, metode dan teknik, pendekatan holistik, konsistensi jangka panjang, inovasi, keunggulan kompetitif dan transfer pengetahuan yang berkaitan dengan informasi dampak dan respon adaptif terhadap perubahan iklim. Dalam CCKM diharapkan banyak masyarakat sipil, institusi akademik, sektor swasta dan peneliti individual menghasilkan riset yang bermanfaat, dengan memanfaatkan berbagai informasi dan pengetahuan berkaitan dengan perubahan iklim. Sebagai elemen yang penting dalam CCKM, informasi perubahan iklim harus disebarluaskan kepada mereka yang membutuhkan pada waktu dan format yang tepat. Selain itu pentingnya perbaharuan informasi perubahan iklim seperti strategi adaptasi, teknologi dan mekanisme monitoring, memungkinkan untuk mendeteksi perubahan dan tren fenologi biota pada tingkat populasi dan perubahan rentang distribusi spesies. Oleh karena itu dalam penelitian ini, informasi status kerentanan tumbuhan mangrove terhadap serangga herbivora serta musim migrasi burung dapat digunakan sebagai informasi dasar yang penting. Informasi tersebut nantinya dapat digunakan sebagai model respon dan kapasitas adaptif biota, untuk tujuan akhir memberikan solusi bagi pengembangan CCKM di Indonesia serta rekomendasi desain adaptasi habitat terhadap dampak perubahan iklim, khususnya di daerah pesisir.