2018 : Perancangan EWS (Early Warning System) Banjir berdasarkan Sensor Muka Air Sungai, Kejenuhan Tanah dan Intensitas Hujan

Dr.Ir. Ria Asih Aryani Soemitro M.Eng.
Mahendra Andiek Maulana ST., MT
Trihanyndio Rendy Satrya ST., MT.


Abstract

Anomali cuaca di wilayah Indonesia secara tidak langsung dipengaruhi oleh perubahan iklim secara global. Contoh nyata yang dapat menjelaskan hal tersebut adalah peristiwa banjir yang sering melanda beberapa wilayah di sekitar aliran sungai. Banjir yang terjadi dapat menimbulkan kerugian material maupun non material, sehingga diperlukan usaha pengurangan dampak akibat banjir. Pusat kota Sumbawa pada khususnya mengalami banjir besar pada 1986, 1996, 2006 dan yang terakhir kemarin terjadi pada awal tahun 2017, di mana banjir ini terjadi secara masif dan tersebar di pusat kota Sumbawa (Brang Biji, Brang Bara, Bugis) dan di luar pusat kota (Labuan Badas, Moho Hulu, Tarano, Lape, Empang). Jumlah korban adalah sekitar 25.000 jiwa di pusat kota dan total 40.000 ribu jiwa yang terdampak di seluruh kota Sumbawa. Seluruh korban ini didominasi oleh penduduk yang tinggal di bantaran sungai Brang Bara, Bugis dan Brang Biji. Adapun fluktuasi mukai air sungai saat musim kemarau adalah sekitar 1,5 m dan pada saat musim penghujan adalah sekitar 4 m, serta menurut informasi panjang sungai mencapai sekitar 10 km. Umumnya, ketika akan terjadi banjir tidak terdapat suatu sistem yang memberikan peringatan kepada masyarakat bahwa kemungkinan akan terjadi banjir. Penelitian mengenai pengembangan sistem peringatan dini banjir (Early Warning System, EWS) bertujuan untuk mengembangkan model atau perangkat yang dapat memberikan suatu tanda bahwa dalam selang waktu tertentu kemungkinan akan terjadi bahaya banjir. Teknologi sederhana yang menggabungkan antara informasi pencatatan elevasi muka air, tingkat kejenuhan tanah dan intensitas hujan di sekitar sungai dengan perangkat sistem informasi merupakan salah satu cara untuk mengantisipasi dampak banjir. Peringatan sebelum terjadi banjir yang dihasilkan oleh sistem EWS tersebut diharapkan dapat memberikan informasi dari waktu ke waktu (real time) kepada masyarakat yang berada di sekitar wilayah rawan banjir untuk dapat mempersiapkan diri sebelum banjir terjadi. Penelitian mengenai pengembangan sistem peringatan dini banjir direncanakan selama 10 bulan. Tahap awal penelitian dimulai dengan kegiatan meliputi studi literatur, survei lapangan, pengamatan fluktuasi muka air pada musim penghujan dan kemarau, pengambilan sampel tanah sekitar sungai dan pengamatan serta pengambilan data sekunder terkait curah hujan. Berdasarkan data-data yang telah didapatkan, maka selanjutnya dapat dilakukan analisis mengenai batas kritis elevasi muka banjir pada sungai yang ditinjau serta kriteria kerawanannya. Target luaran penelitian adalah terbentuknya protipe EWS bencana banjir berdasarkan analisis fluktuasi muka air sungai, tingkat kejenuhan tanah dan intensitas hujan. Kata kunci: Muka Air Sungai, Intensitas Hujan, Banjir, Prototipe, Early Warning System.