2018 : Analisis Komposisi dan Morfologi Hasil Ekstraksi Serat Daun Nanas sebagai Bahan Baku Tekstil

Ir. Elly Agustiani M.Eng
Warlinda Eka Triastuti S.Si., MT.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Serat alam alam yang berasal dari binatang seperti wool, sutera, ilama, dan bulu unta (camel hair). Serat yang berasal dari bahan baku tambang, misal serat asbes. Sedangkan serat yang berasal dari tumbuhan dapat dikelompokkan lagi sesuai dengan asal serat diambil. Serat yang diambil dari biji (seed fibres), misal serat cotton dan kapuk. Serat yang diambil dari batang (bast fibres), missal serat jute, flax, hemp, dan ramie. Serat yang diambil dari daun (leaf fibres), misal abaca, henequen, sisal, daun nanas dan lidah mertua. Serat nanas memiliki karakteristik bahan hampir mirip seperti bahan sutra dan serat nanas mempunyai kemampuan untuk mengikat uap air yang cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari kapas. Kapas hanya mampu menyerap sekitar 7,8% sedangkan serat nanas lebih dari 10%. Dalam industri pengolahan nanas, kulit dan daun yang kaya akan serat merupakan limbah yang selanjutnya dibuang atau dimusnahkan begitu saja. Pemanfaatan dan pengolahan limbah nanas menjadi produk bahan baku tekstil merupakan ide yang potensial untuk dikembangkan sehingga memberikan nilai tambah ekonomis bagi limbah tersebut. Pengambilan serat nanas dari daunnya (fibre extraction) dapat dilakukan dengan tangan (manual) maupun dengan peralatan decorticator. Cara yang paling umum dan praktis adalah dengan proses water retting dan scrapping. Water retting adalah proses yang dilakukan oleh mikroorganisme untuk memisahkan atau membuat busuk zat-zat perekat (gummy substance) yang berada di sekitar serat daun nanas agar lebih mudah dalam pengambilan seratnya (Kirby, 1963). Degumming atau ekstraksi serat merupakan proses pemisahan serat selulosa dari gum yang berupa pektin, hemiselulosa dan lignin. Zat tersebut harus dihilangkan agar serat memiliki daya pintal. Degumming merupakan proses awal dalam pengambilan serat yang menghasilkan serat menjadi semakin halus. Degumming dapat dilakukan dengan cara kimia, biologi dan mekanik. Pemilihan metode degumming dapat ditentukan oleh karakteristik bahan baku serat. , setelah proses degumming maka dilanjutkan proses bleaching pada serat. Proses ini ditujukan untuk membuat serat berwarna lebih putih seperti serat lain baik alami maupun sintetik. Serat yang diperoleh kemudian diuji kuat tari, kuat tekan, daya serap air, dan SEM.