2016 : POLA PENGGUNAAN RUANG PUBLIK DI KAMPUNG WISATA UBUD BALI\n

Rulli Pratiwi Setiawan S.T., M.Sc., Ph.D
Karina Pradinie Tucunan S.T., M.Eng.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Kampung-kampung kota yang ada saat ini merupakan salah satu bentuk transformasi dari adanya perkembangan kota. Keberadaan kampung kota sebenarnya merupakan sebuah bentuk asli dari kota-kota di Indonesia. Kampung lebih menggambarkan segi humanitas dan urbanitas kehidupan kota yang saat ini mulai dicari kembali oleh negara-negara maju melalui konsep New Urbanism. Permukiman dan hunian merupakan salah satu wujud kebudayaan manusia. Sebagai wujud kebudayaan manusia, maka permukiman dan hunian terbentuk dengan adanya proses pembentukan hunian yang mewadahi aktivitas manusia yang hidup dan tinggal di dalamnya. Dalam proses pembentukan tersebut, rona (setting) lingkungan mempengaruhi pola kegiatan serta proses perwujudan wadah aktivitas baik secara fisik maupun non fisik (Rapoport, 1977). Berkaitan dengan hal tersebut, Habraken (1978) menjelaskan bahwa tatanan fisik permukiman merupakan satu kesatuan sistem yang terdiri dari: spatial system, physical system dan stylistic system. \n\nPradinie & Navastara, 2014 menemukan sebuah pola yang berbeda terhadap bagaimana penggunan ruang publik memiliki bentuk – bentuk yang berbeda sesuai dengan pola atau bentuk sosial masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Kasus Ampel misalnya dengan adanya “trigger” wisata maka dalam persepsi masyarakat sebagian besar bentuk ruang publik adalah ruang semi privat, kasus Kampung madura menunjukkan pola yang berbeda di mana ruang – ruang publik masih terpreservasi dengan baik, namun menunjukkan pengurangan terhadap ruang privat yang ada. \n\nPenelitian ini merupakan salah satu bentuk dari penelitian lanjutan dari proposal penelitian yang didanai oleh PNBP pada tahun 2015 dengan judul “Transformasi Ruang Publik di Perkampungan Kota Surabaya”. Hasil penelitian pada tahun 2015 memberikan referensi pada tim peneliti bahwa tujuan – tujuan wisata dapat memiliki hasil yang signifikan pada pola penggunaan ruang publik di Kota Surabaya (kasus Ampel). Pengabilan model kampung Ubud yang merupakan wisata internasional dengan tujuan mencari pola-pola baru terhadap bagaimana ruang publik di “kota wisata” yang memiliki kearifan budaya serta mengkonfirmasi hasil temuan pada pola ruang publik di kota Surabaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif induktif dengan menyertakan variabel-variabel penelitian lama dengan tujuan konfirmatory analysis. \n