2018 : Penerapan Metode GSTAR-GLS dan SVM untuk Peramalan Data Kualitas Udara di Kota Surabaya

Dr. Drs Brodjol Sutijo Suprih Ulama M.Si
Mike Prastuti S.Si., M.Si.
Iis Dewi Ratih S.Si., M.Si.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Dalam perkembangannya data runtun waktu seringkali menunjukkan tidak hanya mengandung keterkaitan dengan kejadian pada waktu-waktu sebelumnya, namun juga mempunyai keterkaitan dengan lokasi atau tempat lain yang disebut sebagai data spatio temporal. GSTAR (Generalized Space Time Autoregressive) merupakan suatu model yang menggabungkan unsur dependensi waktu dan lokasi pada suatu data deret waktu multivariat. Metode GSTAR dengan estimasi parameter menggunakan Genaralized Least Square (GLS) mampu mengatasi adanya overfitting pada hasil ramalan dikarenakan hasil estimasi parameter yang dihasilkan tidak efisien. Selain itu, masalah lainnya yang sering ditemui dalam data runtun waktu adalah terdapat komponen non linier pada data pengamatan. Metode yang cukup baik jika data yang digunakan merupakan data non linier adalah Support Vector Machine (SVM). Oeh karena itu, dalam penelitian ini akan menggunakan metode GSTAR-GLS dan SVM pada data spatio temporal yaitu kualitas udara di tiga lokasi di Kota Surabaya. Lokasi stasiun pemantau yang digunakan yaitu Taman Prestasi Kantor Gubernur, Wonorejo dan Kebonsari. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas udara adalah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Parameter yang digunakan untuk menghitung ISPU adalah partikultas berukuran kurang dari 10 µm (PM10), sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), oksidan dalam bentuk ozon (O3), dan nitrogen dioksida (NO2). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan hasil ramalan data kualitas udara yang lebih akurat dan tidak terjadi overfitting. Hal ini diperoleh dengan cara mendapatkan model terbaik dengan membandingkan hasil ramalan dari kedua metode yaitu GSTAR-GLS dan SVM. Hasil ramalan tersebut sangat penting mengingat udara merupakan salah satu komponen yang penting bagi kelangsungan makhluk hidup, terutama manusia. Hal ini dikarenakan, jika terjadi pencemaran udara maka akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan mempengaruhi kualitas udara di wilayah tersebut. Sehingga menyebabkan terjadinya berbagai macam penyakit saluran pernafasan seperti batuk, bronkitis, asma, pneumonia, dan bahkan kanker paru.