2017 : Pengembangan Model Gabungan Mixed Integer Linear Programming (MILP) dan Simulasi dalam Strategi Alih Stok pada Distribusi Pupuk Bersubsidi.

Erwin Widodo ST., M.Eng.
Dody Hartanto ST., MT.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Biaya logistik di Indonesia secara rata-rata mencapai 25% dari nilai penjualan produk. Angka tersebut dapat dikategorikan cukup tinggi. Biaya logistik pada negara-negara Asia tenggara yang lain seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam hanya berkisar 13% sampai dengan 15% dari nilai penjualan produk. Biaya logistik dapat diturunkan dengan meningkatkan efisiensi pada beberapa faktor seperti proses produksi, sistem transportasi, pengelolaan permintaan, pergudangan, pemanfaatan teknologi informasi, infrastruktur, regulasi dan lain-lain. Biaya logistik yang masih tinggi juga terjadi pada sistem logistik pupuk. Permasalahan logistik pada pupuk memiliki karakteristik yang unik jika dibandingkan dengan logistik produk-produk yang lain. Keunikan permasalahan tersebut menyebabkan model-model optimasi dan simulasi yang telah dikembangkan dalam distribusi produk tidak bisa digunakan menyelesaikan permasalahan distribusi pupuk. Keunikan permasalahan distribusi pupuk diantaranya adalah: \n• Proses produksi pupuk merupakan continous production sehingga proses produksinya terus berjalan hampir tanpa jeda (24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu). Shutdown atau penghentian sementara proses produksi akan menimbulkan biaya yang sangat besar. Biaya ini merupakan biaya yang dibutuhkan untuk memulai kembali produksi atau biaya setup. Perusahaan sangat menghindari untuk melakukan shutdown produksi, termasuk untuk perawatan. Pabrik dengan continous production dalam satu tahun bisa shutdown hanya sekali atau dua kali, bahkan ada pabrik yang terus menerus beroperasi dalam 10 tahun tanpa berhenti sama sekali. Hal ini menyebabkan perusahaan secara terus menerus menghasilkan produk dalam jumlah yang relatif konstan meskipun permintaan konsumen berfluktuasi. Dengan kata lain, perusahaan tidak bisa dengan mudah menghentikan, menurunkan ataupun menaikan kapasitas produksi jika permintaan produk berflutuasi. Hal ini menyebabkan perusahaan harus terus mengirim pupuk ke daerah-daerah meskipun daerah tersebut belum memerlukan bahkan ketika gudang pada daerah tersebut masih penuh. Hal ini harus dilakukan karena gudang pada pabrik terbatas.\n• Pada setiap tahun kelompok tani yang tergabung dalam gabungan kelompok tani (gapoktan) diminta untuk mengajukan kebutuhan pupuk dalam setahun yang disebut sebagai RDKK(rencana definitif kebutuhan kelompok). RDKK menjadi dasar pemerintah dalam mengalokasikan pupuk ke setiap wilayah. RDKK hanya memberikan infromasi mengenai permintaan total dalam satu tahun. Perusahaan yang bertanggung jawab memproduksi dan mendistribusikan pupuk tidak mempunyai informasi dari RDKK mengenai kapan “jatah”pupuk tersebut akan diambil oleh petani. Besarnya permintaan sangat dipengaruhi oleh musim tanam dan jenis tanaman yang akan ditanam oleh petani. Seringkali, petani merubah jenis tanaman yang akan ditanam karena mengikuti perubahan harga komoditas pertanian. Hal ini menyebabkan ketidakpastian permintaan pupuk dan fluktuasi yang tinggi. Produksi pupuk menghasilkan pupuk dalam jumlah yang konstan sedangkan permintaan pupuk sangat berfluktuasi.\n• Distribusi pupuk harus memenuhi peraturan pemerintah. Sebagai contoh, pada setiap gudang lini 2 (gudang penyangga) harus terdapat minimal stok sebesar tiga minggu kebutuhan (three weeks days of supply). Peraturan ini tetap harus diikuti meskipun gudnag tersebut berlokasi pada wilayah yang dekat dengan pabrik pupuk, yang tentu saja memiliki lead time pengiriman yang relatif pendek. Seharusnya, untuk mencapai service level yang sama setiap gudang pada semua wilayah tidak harus memiliki minimun stok (days of supply) yang sama.\n\nPupuk dari pabrik seharusnya dikirim ke gudang penyangga sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Akan tetapi, seringkali gudang-gudang penyangga tersebut masih dalam kondisi penuh sedangkan pabrik berproduksi secara terus menerus dan kapasitas gudang di pabrik terbatas. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk mengirim produk ke gudang-gudang penyangga pada lokasi yang tidak sesuai dengan alokasi dan jika gudang penyangga pada wilayah yang sesuai dengan alokasi sudah memiliki kapasitas yang cukup maka pupuk tersebut akan dipindahkan ke gudang penyangga yang sesuai. Strategi ini disebut sebagai strategi alih stok. Penelitian-penelitian mengenai distribusi pupuk belum ada yang memasukan strategi alih stok sebagai salah satu alternatif kebijakan dalam distribusi pupuk. \n\nDalam strategi alih stok perusahaan harus menentukan gudang manakah yang sebaiknya menjadi tujuan pengiriman pupuk jika gudang pada suatu wilayah masih penuh, waktu pengiriman, volume pengiriman dan lain-lain. Metode simulasi dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai ide kebijakan strategi alih stok. Model simulasi dapat mengakomodasi kompleksitas sistem yang meliputi ketidakpastian, fluktuasi maupaun kesalingtergantungan antar faktor. Metode ini memungkinkan kandidat-kandidat kebijakan dapat dievaluasi dengan cepat dan murah serta tanpa harus menerapkannya pada sistem riilnya terlebih da