2017 : PERANCANGAN POLA OPERASI KAPAL DI WILAYAH KEPULAUAN UNTUK MENDUKUNG PROGRAM TOL LAUT

Dr. Ir. Setyo Nugroho
Dr.Eng. I Gusti Ngurah Sumanta Buana ST,M.Eng.
Firmanto Hadi ST.
Irwan Tri Yunianto S.T., M.T.


Abstract

Kawasan Timur Indonesia (KTI) adalah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari 6.090 pulau besar dan kecil yang tersebar di 4 (empat) provinsi yaitu Maluku, Maluku Utara, Irian Jaya Barat dan Papua. Luas daratan kawasan ini meliputi 27,99% wilayah NKRI, tetapi berpenduduk hanya 2,59% dari total jumlah penduduk Indonesia. Kondisi geografis dan demografis seperti ini berdampak pada tingginya harga komoditas pokok bila dibandingkan dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI). Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah telah meluncurkan program \"Tol Laut\". Namun program ini belum dapat mengurangi disparitas harga di kawasan ini secara signifikan. Untuk itu beberapa upaya telah dilakukan seperti merevisi rute Tol Laut dan menambah armada kapal.\n(Buana dan Shinoda, 2016) telah melakukan studi mengenai pemilihan jenis kapal yang sesuai untuk angkutan peti kemas di Indonesia dengan menggunakan metode Multi-criteria Analysis (MCA) untuk beberapa kondisi perairan dan tingkat permintaan. Berdasarkan hasil studi tersebut, upaya peningkatan kinerja angkutan laut sebagai pendukung dapat dilakukan dengan merancang pola operasi kapal di suatu kawasan kepulauan untuk dapat mendukung program Tol Laut. Hal itu dapat dilakukan dengan mengidentifikasi tingkat permintaan komoditi/muatan di suatu kawasan di KTI, memprediksi tingkat permintaan di masa mendatang yang kemudian dipakai untuk menentukan batas optimal pemilihan suatu tipe kapal, serta untuk merancang pola operasi/rute kapal yang terpilih.\nUntuk dapat mengakomodasi rentang persepsi suatu kriteria, konsep fuzzy akan diaplikasikan untuk melengkapi metode MCA yang telah dikembangkan dalam penelitian sebelumnya. Besarnya permintaan terhadap komoditi dipengaruhi oleh beragam faktor yang berinteraksi secara kompleks sehingga prediksi sulit dilakukan. Oleh karena itu, metode System Dynamics dipakai untuk tujuan tersebut untuk mendapatkan prakiraan tingkat permintaan yang memadai. Dari beberapa jenis yang tersedia, dua jenis kapal akan dievaluasi, yaitu kapal multi purpose konvensional dan articulated tug barge (ATB). Metode optimisasi akan dipakai untuk mencari batas tingkat permintaan sehubungan dengan pemilihan jenis kapal yang sesuai, sedangkan metode travel salesman problem akan dipakai untuk merancang rute operasi kapal yang dipilih.