2019 : PERUBAHAN PERILAKU TANAH GAMBUT BERSERAT AKIBAT PROSES DEKOMPOSISI OLEH BAKTERI ENDOGEN DAN STABILISASI CAMPURAN KAPUR DAN ABU TERBANG

Prof.Ir. Noor Endah M.Sc Ph.D
Dr. Dra. Enny Zulaika M.P.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Metode perbaikan tanah gambut berserat dengan menggunakan bahan stabilisasi telah banyak dikembangkan. Bahan stabilisasi yang telah ditemukan pada penelitian sebelumnya adalah campuran 30% kapur+70% abu terbang (FA). Prosentase bahan stabilisasi yang memberikan hasil yang optimum adalah 10% dari berat tanah gambut yang distabilisasi. Pada usia peram 20-45 hari, perilaku tanah gambut distabilisasi membaik; namun terjadi penurunan daya dukung pada usia peram 45-60 hari,. Penyebabnya adalah turunnya kadar air akibat penyerapan air oleh bahan stabilisasi; hal ini berakibat pada terjadinya percepatan proses dekomposisi yang menyebabkan terjadinya penurunan daya dukung. Kondisi ini seharusnya tidak boleh terjadi; proses dekomposisi harus selesai sebelum konstruksi diatasnya mulai dibangun. Karena alasan tersebut, penelitian lanjutan dilakukan untuk mencari cara mempercepat proses dekomposisi tanah gambut. Diperoleh hasil bahwa bakteri aerob endogen (diproduksi dari sampel tanah gambut yang diteliti) sebanyak 10% dari berat tanah gambut basah memberikan percepatan proses dekomposisi yang paling optimum. Hanya saja, proses dekomposisi terjadi untuk serat selulosa saja sedangkan serat lignin belum terdekomposisi dengan sempurna; hal ini berarti potensi untuk terjadinya proses dekomposisi masih ada. Dengan dasar pemikiran bahwa penurunan daya dukung tanah gambut tidak boleh terjadi apabila konstruksi telah dibangun, maka perlu dicari jenis bakteri yang dapat mendekomposisi semua jenis serat yang ada di dalam gambut sebelum pembangunan konstruksi dimulai. Dalam penelitian yang diusulkan ini, mikroorganisme dekomposer yang akan dipakai adalah bakteri endogen jenis lignoselulolitik dengan prosentase 10%, 20%, dan 30%. Masing-masing campuran kemudian diperam untuk kemudian dilakukan test viabilitas bakteri pada umur peram 0, 10, 20,14, 28, 42, dan 56 hari dengan metode total plate count (TPC) untuk mengetahui total bakteri yang masih hidup selama masa peram yang bervariasi tersebut. Dari hasil tersebut kemudian dibuat sampel baru yang selanjutnya diperam selama masa peram yang optimum. Setelah pemeraman berakhir, sampel kemudian distabilisasi dengan campuran 30% kapur + 70% abu terbang (FA); prosentase bahan stabilisasi yang dipilih adalah 10%, 15%, dan 20%. Masing-masing campuran tersebut kemudian diperam selama 20, 30, 45, 60, dan 90 hari dan kemudian di test untuk mengetahui peningkatan sifat fisik dan teknisnya. Tanah gambut yang diteliti diambil dari desa Bereng Bengkel, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dari penelitian ini diharapkan akan diketahui jenis bakteri endogen yang dapat mendekomposisi serat selulose dan lignin di dalam gambut berserat, serta jumlah bakteri dan waktu peram yang optimum yang diperlukan. Prosentase bahan stabilisasi dan waktu peram yang optimum yang dapat meningkatkan perilaku tanah gambut yang bersangkutan juga akan diperoleh. Selain itu, hubungan antara peningkatan derajat dekomposisi dan perubahan perilaku tanah gambut berserat juga akan diketahui. Kata kunci: abu terbang, bakteri endogen, dekomposisi, gambut berserat, kapur, stabilisasi.