2017 : PENGEMBANGAN METODA ANALISIS BESI

Suprapto S.Si., M.Sc., Ph.D
Drs. Djarot Sugiarso KS MS.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Senyawa organik yang dikenal sebagai 1.10-fenantrolin atau orto-fenantrolin adalah ligan bidentat yang memainkan peran penting dalam pengembangan senyawa koordinasi dan masih cukup menarik sebagai bahan awal yang serbaguna baik untuk organik, anorganik, maupun supramolekul kimia. Orto-Fenantrolin berbentuk kaku planar, bersifat hidrofobik, miskin elektron dengan sistem heteroatomik dimana atom nitrogen bertindak kooperatif dalam mengikat kation. Fitur-fitur strukturalnya memiliki kemampuan untuk menentukan koordinasi menuju ion logam. Senyawa induk orto-fenantrolin memiliki sepasang atom nitrogen yang dapat berikatan kovalen dengan ion Fe2+. Tiga molekul orto-fenantrolin dapat bersenyawa dengan satu ion Fe2+ sehingga terbentuk senyawa kompleks dimana Ion Fe2+ bertindak sebagai ion pusat yang memiliki konfigurasi terakhir 3d6.\nPembentukan Fe(II)-Fenantrolin diawali dengan mereduksi Fe(III) menjadi Fe(II). Pada ASTM ditentukan bahwa pereduksi yang baik untuk mereduksi Fe(III) menjadi Fe(II) adalah hidroksilamin hidroklorida. Namun, selain dengan hidroksilamin hidroklorida ternyata besi dapat direduksi dengan senyawa lain.Pada penelitian ini, akan dilakukan analisa reduksi besi(III) menjadi besi(II) dengan reduktor natrium tiosulfat dan hidroksilamin hidroklorida. Analisa ini akan membandingkan kondisi optimum pereduksi natrium tiosulfat dan hidroksilamin hidroklorida dalam analisa besi secara spektrofotometer UV-Vis. Selain itu, membandingkan aktivitas pereduksi Na2S2O3 dan NH2OH.HCl yang meliputi pH optimum, waktu pembentukan kompleks dan konsentrasi optimum dengan harapan mengetahui pereduksi yang lebih baik untuk besi. Untuk menerapkan hasil penelitian dalam pemilihan reduktor maka akan diterapkan pada analisa penentuan kadar besi yang diganggu oleh beberapa ion. Pada penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan 3 ion pengganggu yaitu Pb(IV), Sr(II), dan Ba(II) dengan variasi konsentrasi dari 0-7 ppm. \n