2019 : Konsep Tanggap Bencana Kebakaran Berbasis Smart Mobility di Kota Surabaya

Ardy Maulidy Navastara ST., MT.
Surya Hadi Kusuma S.T., M.T.
Mochamad Yusuf S.T., M.Sc.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Kota Surabaya merupakan salah satu Kota Besar kedua di Indonesia. Kota Surabaya memiliki luas wilayah sebesar 326,81 km² dengan kondisi kepadatan penduduk yang tinggi. Pada saat ini pertumbuhan dan perkembangan Kota Surabaya sangat pesat dalam berbagai bidang. Kepadatan penduduk yang meningkat, banyaknya pembangunan gedung perkantoran, kawasan perumahan, industri yang semakin berkembang sehingga menimbulkan kerawanan terjadi kebakaran. Sejalan dengan jumlah penduduk yang meningkat akan meningkatkan kebutuhan akan tempat tinggal sehingga timbul kecenderungan pertambahan bangunan yang kemudian meningkatkan potensi ancaman kebakaran di Kota Surabaya (Bappeko, 2011). Bencana kebakaran merupakan bencana yang tidak dapat diprediksi yang kerap terjadi di kota-kota besar. Menurut Rahmad, 2016, kebakaran ini merupakan bencana yang bahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa manusia serta harta benda jika nyala api tidak dapat dikendalikan. Kebakaran yang telah terjadi selain berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa juga mengakibatkan hilangnya harta benda bahkan dapat juga menghilangkan nyawa manusia. Kejadian kebakaran di Kota Surabaya terjadi secara berulang setiap tahunnya. Pada tahun 2012 tercatat terdapat 573 kejadian kebakaran, tahun 2014 terjadi 596 kejadian kebakaran, tahun 2015 terjadi 600 kejadian kebakaran. Namun terjadi penurunan kejadian kebakaran pada tahun 2016, dimana hanya terjadi 300 kejadian kebakaran di kota Surabaya. Namun kejadian kebakaaran kembali meningkat sepanjang tahun 2017, tercatat ada 321 kejadian kebakaran di Kota Surabaya. Berdasarkan jumlah kejadian kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2017 memberikan kerugian yang cukup besar (Jawa Pos, 2018). Kerugian akibat kejadian kebakaran yang terjadi di Kota Surabaya sepanjang tahun 2017 dari 321 total kejadian kebakaran (periode januari-november) sebesar 18,2 milliar rupiah. Kebakaran ini menghanguskan 82 rumah dan 14 pabrik serta menghabiskan lahan ilalang sebanyak 225 lahan. Sedangkan kerugian berdasarkan korban jiwa akibat kebakaran diketahui sebanyak 21 orang terluka dan 1 orang meninggal dunia (Jawa Pos, 2018). Kota Surabaya saat ini sedang gencar mengembangkan smart city. Menurut Nijkamp et al (2009) menyatakan bahwa kota cerdas merupakan kota yang mampu menggunakan sumber daya manusia (SDM), modal manusia, dan infrastruktur telekomunikasi modern untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas hidup yang tinggi. Menurut Cohen (2010) dimensi utama smart city itu ada 6, diantaranya smart governance, smart mobility, smart environment, smart people, smart economy, dan smart living. Dari 6 dimensi yang ada, dalam penerapannya setiap kota dapat memfokuskan pada salah satu dimensi yang ada. Untuk saat ini Kota Surabaya sudah mencoba menerapakan konsep smart city dengan menyediakan layanan publik yang dikenal dengan command center yang dapat diakses masyarakat melalui nomer pengaduan 112. Serta diketahui juga ada aplikasi e-dishub yang berkaitan dengan transportasi yang ada di Kota Surabaya, yang juga merupakan upaya dalam mewujudkan smart mobility (Insani, 2017).