2018 : PEMODELAN SPASIAL PENGARUH GAS RUMAH KACA (GRK) TERHADAP KETAHANAN PANGAN DI KOTA SURABAYA

Hertiari Idajati ST., M.Sc
Ummi Fadlilah Kurniawati ST, M.Sc

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Gas rumah kaca (GRK) merupakan gas di atmosfer yang berfungsi menyerap radiasi infra merah dan ikut menentukan suhu atmosfer. Adanya berbagai aktivitas manusia, khususnya sejak era pra-industri emisi gas rumah kaca ke atmosfer mengalami peningkatan yang sangat tinggi sehingga meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Hal ini menyebabkan timbulnya masalah pemanasan global dan perubahan iklim. Untuk mengatasi masalah ini, pada KTT Bumi di Rio tahun 2002, dilahirkan konvensi perubahan iklim dengan tujuan untuk mestabilisasi konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang tidak membahayakan sistem iklim (KLH, 2012). Menurut Gregory et. al. (2005), perubahan iklim berdampak terhadap sistem pangan melalui beberapa cara yang meliputi dampak langsung terhadap produksi tanaman hingga perubahan dalam pasar, harga produk pangan, dan infrastruktur rantai pasok (supply chain). Terganggunya sistem pangan akibat meningkatnya suhu perkotaan sebagai dampak dari peningkatan emisi GRK ini berdampak buruk pada ketahanan pangan penduduk. Menurut Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (2006), ketahanan pangan merupakan suatu sistem terintegrasi yang terdiri atas tiga subsistem utama, yaitu ketersediaan, distribusi, dan konsumsi pangan. Subsistem ketersediaan berkaitan dengan produksi pangan, subsistem distribusi berkaitan dengan pemasaran pangan, baik dari segi wilayah jangkauan maupun harga, sementara subsistem konsumsi pangan berkaitan langsung dengan status gizi masyarakat. Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (2006) telah mencatat bahwa perubahan iklim global merupakan salah satu masalah dan tantanganya. Kota Surabaya merupakan area perkotaan yang memiliki laju pertumbuhan penduduk meningkat setiap tahunnya, yakni sebesar 0,52 % pada tahun 2010-2013 dan meningkat menjadi 0,55% di tahun 2013-2014 (Surabaya Dalam Angka, 2016). Pertumbuhan peduduk yang semakin meningkat berdampak pada meningkatnya ketersediaan pangan perkotaan. Ketersediaan pangan di Kota Surabaya terdiri dari pangan nabati dan hewani. Pangan nabati terdiri dari padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Sedangkan pangan hewani terdiri dari daging, telur, susu dan ikan. Aktivitas penyediaan pangan yang memiliki kontribusi terhadap emisi GRK adalah aktivitas yang ditimbulkan dari sektor pertanian termasuk ternak. Dalam penelitian ini akan dikaji lebih lanjut mengenai bagaimana pengaruh emisi GRK dari sektor pertanian dan ternak terhadap ketersediaan pangan di Kota Surabaya.