2019 : PEMETAAN DAERAH TERTINGGAL DI PULAU JAWA BERDASARKAN DIMENSI KESEHATAN, INFRASTRUKTUR, EKONOMI, SUMBER DAYA MANUSIA MENGGUNAKAN META-ANALYTIC STRUCTURAL EQUATION MODELING (MASEM)

Bambang Widjanarko Otok S.Si., M.Si.
Muhammad Sjahid Akbar S.Si.,M.Si.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Pulau Jawa adalah pulau terluas ke-5 di Indonesia dan ke-13 di dunia. Pulau Jawa dihuni oleh 255.18 juta jiwa atau lebih dari 60% penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik (BPS), 2016). Secara perekonomian, Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 57,39 persen. Namun, pada Lampiran Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015 – 2019, tercatat ada 6 Kabupaten di Pulau Jawa yang tergolong daerah tertinggal. Suatu daerah dikatakan sebagai daerah tertinggal apabila pada daerah tersebut terdapat kabupaten yang masyarakat dan wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Ketertinggalan daerah tersebut dapat diukur berdasarkan enam kriteria utama yaitu ekonomi, sumber daya manusia, infrastruktur, kapasitas keuangan daerah, aksesibilitas dan karakteristik daerah (Direktorat Jendral Pembangunan Daerah Tertinggal, 2016). Dalam rangka menunjang keberhasilan pengentasan daerah tertinggal di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, diperlukan suatu penelitian terhadap daerah tertinggal. Penelitian ini menggunakan metode Meta-Analytic Second-Order Confirmatory Factor Analysis (MESCFA). MESCFA adalah salah satu metode yang mengintegrasikan teknik meta-analisis dan Second-Order CFA. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil Pendataan Potensi Desa (PODES) 2014 dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2014. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi daerah tertinggal di provinsi-provinsi yang terletak di Pulau Jawa sehingga dapat digunakan sebagai referensi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan untuk menanggulangi masalah pada daerah tertinggal.