2017 : Pemetaan Kuantitas dan Karakterisasi Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun di Kampus ITS

Prof. Dr. Yulinah Trihadiningrum M.App.Sc
Welly Herumurti S.T., M.Sc.
Arseto Yekti Bagastyo S.T., M.T., M.Phil,


Abstract

Kegiatan pendidikan berbasis laboratorium (LBE) perlu memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan aktifitas akademik terhadap lingkungan. Di antara dampak yang mungkin timbul adalah akibat dihasilkannya limbah B3 laboratorium dan limbah elektronik, yang dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Limbah elektronik termasuk dalam kelompok limbah B3 karena mengandung logam berat, seperti timbal, merkuri, kadmium, dan substansi berbahaya lainnya. \n\nKegiatan praktikum dan penelitian yang dilakukan di laboratorium akan menghasilkan air limbah laboratorium yang terdiri atas sisa bahan kimia yang selesai digunakan, air limbah dari pencucian alat, dan sisa sampel yang diuji. Air limbah laboratorium ada yang bersifat asam, basa, iritatif, reaktif, dan logam berat yang bersifat racun. Laboratorium juga menghasilkan limbah B3 padat seperti sarung tangan, kertas tisu, dan kain yang terkontaminasi dengan reagen-reagen kimia, serta materi pembersih tumpahan bahan kimia. \n\nITS memiliki lima fakultas, 28 departemen, dan 157 laboratorium. Di antara laboratorium yang ada, ada yang berpotensi menghasilkan limbah B3 yang bersifat cair maupun padat, yaitu di Departemen Teknik Lingkungan, Teknik Kimia, Teknik Material dan Metalurgi, Kimia, dan Biologi. Air limbah dan limbah padat yang mengandung B3 dari laboratorium masih ditangani secara terbatas, sesuai dengan kemampuan masing-masing Departemen. Masih ada laboratorium yang membuang limbah B3 yang dihasilkannya ke lingkungan sekitarnya. Hal ini melanggar ketentuan mengenai pengelolaan limbah B3 sebagaimana tercantum dalam PP RI No. 101/2014 tentang Pengelolaan limbah B3, dan dapat merusak lingkungan. \n\nDi ITS digunakan berbagai peralatan elektronik untuk mendukung proses belajar mengajar. Masa pakai peralatan elektronik yang terbatas serta prosedur penanganan inventaris peralatan bekas pakai yang rigid, membuat limbah elektronik banyak tersimpan di setiap departemen dalam jumlah besar.Prosedur tersebut dibuat oleh negara dan diimplementasikan tanpa memperhatikan potensi bahaya yang dapat terjadi.\n\nHingga saat ini data tentang laju timbulan, jenis, dan karakteristik limbah B3 laboratorium dan limbah elektronik di ITS serta pengelolaannya masih sangat terbatas. Untuk itu diperlukan penelitian mengenai hal tersebut guna menentukan strategi pengelolaan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kuantitas, jenis limbah, dan karakteristik limbah B3 laboratorium dan limbah elektronik, menginventarisasi kondisi pengelolaannya pada saat ini, serta menentukan strategi pengelolaannya.\n\nPenelitian ini direncanakan berlangsung selama 2 tahun. Pada tahap ini akan dilakukan kajian pengelolaan limbah B3 laboratorium dan limbah elektronik di kampus ITS dengan : (a) menentukan lokasi studi yang diteliti di beberapa departemen terpilih di Kampus ITS, (b) menghitung dan mengamati laju timbulan, jenis, dan karakteristik kedua jenis limbah, (c) melakukan observasi kegiatan pengelolaan eksisting kedua jenis limbah dengan wawancara pada responden yang telah ditentukan, (d) menentukan strategi yang tepat untuk pengelolaan kedua jenis limbah di kampus ITS. Penentuan strategi pengelolaan kedua jenis limbah dilakukan dengan memperhatikan faktor Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT) dari kondisi pengelolaan saat ini, dengan mengaju pada peraturan perundangan mengenai pengelolaan limbah B3 dan limbah elektronik. Pada tahun kedua akan disusun master-plan pengelolaan kedua jenis limbah, yang memenuhi ketentuan dalam peraturan perundangan yang berlaku.\n\nKata kunci : B3, elektronik, kampus ITS, laboratorium, limbah, pengelolaan.