2018 : Regenerasi Katalis Bekas (Spent Catalyst) Menggunakan Metode Ultrasonik dan Hidrotermal dalam Rangka Penghematan Biaya Operasional Industri Perminyakan

Dr. Ir. Sumarno M.Eng.
Ir. Ignatius Gunardi
Prida Novarita Trisanti S.T., M.T.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Katalis padat banyak digunakan pada industri perminyakan untuk meningkatkan efisiensi prosesnya. Salah satunya adalah penggunaan katalis Ni/Mo pada proses hydrotreating dalam unit Naphtha Hydrotreater (NHT). Katalis ini berfungsi untuk meningkatkan penghilangan kandungan pengotor seperti senyawa sulfur, nitrogen dan juga logam yang ada pada feedstock. Dalam kurun waktu tertentu, katalis akan mengalami deaktivasi secara bertahap sehingga memerlukan adanya penggantian katalis. Adanya penggantian katalis tersebut akan menyebabkan biaya produksi meningkat. Selain itu juga, katalis bekas proses tersebut termasuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sehingga perlu ada proses lanjutan untuk dapat dibuang di lingkungan. Salah satu cara untuk mengurangi dampak yang dihasilkan dari adanya katalis bekas tersebut adalah dengan melakukan regenerasi. Metode yang digunakan dalam proses regenerasi pada penelitian ini adalah metode ultrasonik dan hidrotermal. Hal ini dikarenakan kedua metode tersebut merupakan metode yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kondisi operasi pada ultrasonik (jenis pelarut, suhu, dan waktu) dan juga pada proses hidrotermal (tekanan, suhu dan waktu) terhadap penghilangan pengotor pada katalis bekas. Penelitian diawali dengan mencampur katalis bekas (Ni/Mo) dengan pelarut (1/20 (w/v)). Kemudian campuran tersebut diultrasonik menggunakan ultrasonik horn sesuai dengan kondisi operasi yang telah ditentukan. Hasil ultrasonik disaring dan dikeringkan dalam oven. Kemudian produk hasil sonikasi tersebut dilanjutkan ke proses hidrotermal. Pada proses ini, gas nitrogen digunakan sebagai gas penekan. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan katalis hasil proses sonikasi dengan akuades (1/20 (w/v)). Proses hidrotermal bekerja pada tekanan tetap 25 MPa untuk berbagai suhu hidrotermal dan berbagai waktu. Hasil proses hidrotermal disaring dan dikeringkan dalam oven. Produk hasil regenerasi dianalisa dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk mengetahui perubahan morfologi pada katalis, X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengetahui perubahan kristalinitas katalis, X-Ray Flourescence (XRF) untuk mengetahui komposisi kimia dari katalis, dan Brunner Emmet Teller (BET) untuk mengetahui specific surface area dari katalis.