2017 : PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI WILAYAH PERKOTAAN GRESIK MELALUI PENDEKATAN CARBON FOOTPRINT

Ir. Sardjito MT
Dr. Ir. Eko Budi Santoso Lic.rer.reg.
Arwi Yudhi Koswara ST., M.T.
Ema Umilia S.T., M.T


Abstract

Wilayah perkotaan Gresik menjadi wilayah yang berkembang pesat sebagai jalur utama aktivitas ekonomi dan jasa. Perkembangan tersebut menimbulkan konsekuensi semakin banyak kebutuhan ruang terbangun yang dapat berpotensi menimbulkan konflik alih fungsi lahan, kerusakan lingkungan, menurunkan daya dukung lingkungan. Salah satu indikasi menurunnya daya dukung lingkungan adalah fenomena global warming dimana produksi emisi gas CO2 meningkat melampaui kemampuan ruang terbuka hijau untuk menyerapnya. Pada periode tahun 2011-2012 di wilayah perkotaan Gresik sudah terjadi penurunan luas kawasan hijau berupa sawah, tambak dan lahan kering sebesar 1.106,73 ha. Hal ini brdasarkan penelitian sebelumnya, wilayah perkotaan Gresik sudah mengalami kondisi defisit ekologis pada aspek penyerapan karbon antara 0.25-0.36 gha. Di sisi lain penggunaan lahan untuk ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan Gresik didominasi oleh lahan kosong, tanah urug dan semak belukar yang sewaktu-waktu dapat beralih fungsi menjadi lahan terbangun. Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah ini sebesar 18.3 % dari luas wilayah. Kondisi minimnya ketersediaan RTH akan berdampak pada penurunan kualitas hidup kota dan masyarakat yang ada di dalamnya akibat menurunnya daya dukung lingkungan seperti potensi gangguan kesehatan pernafasan akibat tingginya polutan udara, maupun potensi banjir akibat berkurangnya daerah resapan/tangkapan air hujan. Oleh karena itu diperlukan arahan penyediaan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan Gresik sebagai upaya menciptakan pemanfaatan ruang yang seimbang antara pemanfaatan lahan untuk kegiatan ekonomi dan lingkungan.\nUntuk mencapai tujuan tersebut dilakukan beberapa tahap penelitian. Tahap pertama akan dilakukan analisis produksi emisi gas CO2 (carbon footprint) di wilayah perkotaan Gresik dari kegiatan perumahan, transportasi dan industri sebagai kegiatan dominan di wilayah ini. Tahap kedua dilakukan analisis kemampuan penyerapan emisi gas CO2 oleh ruang terbuka hijau eksisiting di wilayah perkotaan Gresik. Tahap ketiga adalah menghitung kebutuhan penyediaan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan Gresik. Dan terakhir adalah menentukan arahan potensi lokasi pengembangan RTH yang disesuaikan dengan sumber-sumber emisi gas CO2.\nDengan adanya penelitian ini diharapkan dapat ditentukan arahan arahan penyediaan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan Gresik sebagai upaya menciptakan pemanfaatan ruang yang seimbang antara pemanfaatan lahan untuk kegiatan ekonomi dan lingkungan.\n