2020 : Manajemen Pengelolaan Kucing di Kampus ITS

Dr. Dewi Hidayati S.Si., M.Si
Susi Agustina Wilujeng S.T.,M.T
Herdayanto Sulistyo Putro S.Si, M.Si
Niniet Indah Arvitrida ST, MT.


Abstract

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mempunyai tiga lokasi kampus, yaitu di kawasan pusat kota yaitu Jalan Cokroaminoto, di kampus Manyar dan sebagian besar ada di kawasan Sukolilo dengan luas hampir 160 hektar. Ketiga kampus merupakan kawasan yang amat dekat dengan permukiman, dan merupakan daerah terbuka. Luas kawasan terbuka hijau kampus ITS lebih dari 40% berupa taman, lapangan terbuka serta lahan pertanian dan kawasan pepohonan. ITS meliputi 7 fakultas yang dibagi menjadi 39 departemen dan gedung-gedung lain yang berfungsi untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran dan administrasi, seperti gedung perpustakaan, gedung rektorat, gedung research center dan lain-lain. Menurut ITS UI Green Metric (2019), ada sekitar 20 ribu mahasiswa yang belajar dan sekitar 1000 dosen dan 1000 tenaga kependidikan. Kawasan ITS yang terdiri dari gedung-gedung untuk kegiatan pengajaran, penelitian, dan administrasi dan ruang terbuka hijau yang di sekitarnya dapat ditemui kucing liar, terutama di kampus Sukolilo. Keberadaan kucing liar tidak dapat dipungkiri karena konsekuensi dari dekatnya dengan kawasan permukiman yang banyak penduduk dengan hewan peliharaan dan satwa liar domestik yang hidup di sekitar lingkungan. Jika tidak dikelola dengan baik, keberadaan kucing ini dapat menjadi masalah terutama ketika populasi kucing liar terus meningkat setiap tahunnya. Populasi kucing liar yang berlebihan di lingkungan dimana manusia beraktivitas dapat berpotensi menimbulkan banyak masalah, khususnya yang melibatkan konflik kepentingan antara manajemen dengan civitas akademika di kampus ITS. Beberapa masalah yang dikawatirkan dapat muncul adalah populasi kucing dapat membawa penyakit seperti virus rabies dan penyakit lainnya, gangguan estetika di tempat umum, maupun kesehatan kucing yang tidak terjamin sehingga dapat menjadi vektor penyakit. Namun di sisi lain, sebagian warga akademik (animal lovers) merasa keberadaan kucing di kampus perlu tetap dijaga sebagai salah satu bentuk kepedulian kampus terhadap lingkungan. Karena terdapat konflik kepentingan yang relative kompleks, maka perlu adanya upaya pengendalian atau manajemen populasi kucing liar, mengingatkeberadaan kucing liar di dalam kampus bersinggungan dengan kegiatan akademik dan perkantoran, dimana sebagian sivitas akademika baik mahasiswa, tendik dan dosen menyenangi keberadaan kucing tersebut dan menjadi sarana pelepas stress saat memberikan perhatian kepada binatang tersebut, meskipun ada juga beberapa sivitas yang tidak nyaman dan terganggu atas keberadaan kucing tersebut, baik karena alasan kesehatan maupun psikologis. Keberadaan kucing liar mengakibatkan beberapa konsekuensi sebagaimana telah dijelaskan, dan argumentasi dari pihak yang pro dan kontra semakin lama menjadi sebuah polemik yang sulit dicari titik temunya. Oleh karena itu, penanganan masalah ini harus dikaji secara menyeluruh dan disepakati oleh semua sivitas akademika, pengelola kampus dan juga memperhatikan pihak lain yaitu penyayang binatang.