2017 : IMPLIKASI PERUBAHAN GUNA LAHAN PERTANIAN DI WILAYAH PERI URBAN SURABAYA TERHADAP CARBON FOOTPRINT

Putu Gde Ariastita ST. MT.
Ketut Dewi Martha Erli Handayeni ST., MT.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Pertumbuhan penduduk yang tinggi memicu berragamnya aktivitas ekonomi perkotaan. Pelebaran kegiatan perkotaan dapat mengakibatkan perluasan wilayah perkotaan hingga ke wilayah pinggiran kota dan disebut dengan fenomena urban sprawl. Fenomena ini mempengaruhi kecepatan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian di wilayah peri urban. Wilayah peri urban merupakan wilayah yang terpengaruh aktivitas kota inti sehingga memiliki kenampakan kekotaan di satu sisi dan kenampakan kedesaan di sisi yang lain. Hubungan keterkaitan antara kota inti (core) dengan wilayah belakangnya (periphery) mempengaruhi perubahan lahan pada wilayah peri urban. Mengutip penelitian sebelumnya, pada tahun 2014 wilayah peri urban menyumbang emisi CO2 sebesar 77% dari total produksi emisi di Gerbangkertosusila. Perkembangan aktivitas core-periphery ditambah dengan fenomena perubahan iklim diduga dapat meningkatkan emisi CO2 akibat kecenderungan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian yang tinggi. Oleh karena itu, melalui penelitian ini dikaji implikasi perubahan guna lahan pertanian di wilayah peri urban Surabaya akibat aktivitas core periphery terhadap level carbon footprint.\nRTRW Provinsi Jawa Timur Tahun 2012-2031 telah menetapkan sistem perkotaan Surabaya Metropolitan Area (SMA) sebagai bagian dari metropolitan Gerbangkertosusila. Dalam sistem perkotaan ini Kota Surabaya berperan sebagai pusat perkotaan atau core sedangkan wilayah peri urbannya (periphery) meliputi Kecamatan Driyorejo, Menganti, dan Cerme di Kabupaten Gresik serta Kecamatan Taman di Kabupaten Sidoarjo. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perhitungan daya dukung dengan pendekatan carbon footprint dengan beberapa tahapan. Pertama dilakukan identifikasi karakteristik wilayah peri urban. Kedua, menganalisis pola hubungan keterkaitan wilayah peri urban dengan wilayah urban dan rural menggunakan skala likert untuk didapatkan faktor kecenderungan perubahan guna lahan. Ketiga, akan dilakukan pengamatan multi temporal landsat untuk pengamatan trend perubahan kawasan non terbangun menjadi terbangun. Keempat, modelling perubahan guna lahan di wilayah peri urban dilihat dari kencenderungan perkembangannya berdasarkan pola hubungan dengan wilayah urban dan rural menggunakan cellular automata. Terakhir, dilakukan penghitungan kecenderungan perubahan lahan pertanian menjadi non pertanian dan implikasinya terhadap carbon footprint di wilayah peri urban.\nKeluaran dalam penelitian ini akan memberi manfaat praktis yang relevan dalam pengukuran tingkat emisi carbon akibat perubahan aktivitas perkotaan di wilayah peri urban Surabaya. Penelitian ini juga sangat bermanfaat untuk menjadi salah satu dasar penetapan kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang memiliki fungsi ketahanan pangan dan fungsi ekologis di Jawa Timur.\n\nKata Kunci: prediksi, guna lahan, pertanian, carbon footprint\n