2017 : Pemetaan Bawah Permukaan Surabaya Sebagai Usulan Tata Ruang Berbasis Kebencanaan

Dr. Ayi Syaeful Bahri S.Si., M.T.
Dr. Dwa Desa Warnana S.Si., M.Si
Moh. Singgih Purwanto S.Si., M.T.
Juan Pandu Gya Nur Rochman S.Si., M.T.


Abstract

Kota Surabaya merupakan salah satu kota besar dengan populasi penduduk yang banyak di Indonesia. Berdasarkan Sukardi (1992), secara geologis permukaan Surabaya didominasi oleh endapan alluvium hasil endapan laut dan sungai, tuff dan batu pasir. Sebanyak 80% endapan alluvial dan sisanya berupa tanah hasil pelapukan batuan tersier. Kondisi geologi yang seperti ini, dapat mengakibatkan bahaya gempa lokal. Selain itu, Surabaya dilewati oleh tiga buah patahan. Patahan pertama adalah patahan Watukosek yang memanjang dari Watukosek sampai Madura melewati mud volcano Gunung Anyar Surabaya. Kedua, patahan yang melewati Pulau Madura dan Surabaya yang memanjang ke arah Barat. Ketiga, Flores Back-Arc yang memanjang dari Selat Madura ke barat melewati Surabaya.\nKota Surabaya juga memiliki beberapa fenomena geologis yang menarik untuk diteliti yaitu dengan adanya reservoir minyak pada zaman belanda yang ditandai dengan adanya pompa anggguk di daerah Wonokromo dan gunung lumpur atau mud volcano yang ada di daerah Gunung Anyar. Namun untuk saat ini, data geologi bawah permukaan Surabaya masih sedikit. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memetakan kondisi bawah permukaan Surabaya dengan metoda geofisika.\nKegiatan penelitian ini meliputi survei pendahuluan, tinjauan pra-pengukuran dan pengukuran menggunakan beberapa metoda geofisika yaitu Vertical Electrical Sounding (VES), gaya berat, magnetic, seismic refleksi, mikrotremor dan Very Low Frequency (VLF).\nPenelitian ini diharapkan dapat memetakan struktur bawah permukaan daerah Surabaya. Hal ini juga dapat menjadi usulan untuk mengantisipasi terjadinya bencana di Surabaya. Rencana output dari kegiatan ini adalah publikasi berupa paper, artikel, dan peta bawah permukaan dari area survei