2020 : Biomonitoring kualitas air Danau Ranupani

Dr. Dewi Hidayati S.Si., M.Si
Bieby Voijant Tangahu S.T., M.T., Ph.D.
Anak Agung Gde Kartika ST., M.Sc


Abstract

Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang sebagian wilayahnya masuk dalam kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), merupakan desa terakhir para rute pendakian Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut. Di Desa Ranupani terdapat Danau Ranupani yang merupakan kawasan Cagar Alam yang saat ini mengalami pendangkalan dan terjadi pencemaran air danau dari limbah pupuk lahan pertanian akibat pola pertanian di daerah tangkapan air yang ada di Desa Ranupani. Indikasi pencemaran air danau dapat dilihat secara visual dari warna kehijauan yang tampak di permukaan danau. pencemaran air danau oleh limbah pupuk dari lahan pertanian dan sampah rumah tangga dari aktivitas penduduk Desa Ranupani, serta penutupan badan air Ranupani oleh gulma Salvinia molesta. Biomonitoring dilakukan untuk menhetahui tingkat pencemaran air di Danau Ranupani serta menentukan alternatif pengelolaan untuk mengatasi pencemaran tersebut. Beberapa warga Ranupani menggantungkan pekerjaannya sebagai petani dan sebagian lainnya juga berprofesi menjadi pemandu pendakian Gunung Semeru yang sering dikenal sebagai porter. Namun, kegiatan warga di bidang pertanian merupakan salah satu faktor terjadinya penyempitan yang luas di Danau Ranupani, pembukaan dan pemanfaatan perbukitan sebagai lahan pertanian merupakan sebab terjadinya erosi. Fungsi pepohonan besar adalah sebagai instrumen ekologis untuk menahan pengikisan tanah. Hal tersebut tidak dapat digantikan oleh tanaman pertanian. Implikasi dari hal tersebut kemudian mengakibatkan kedalaman danau semakin berkurang. Sebelumnya pada tahun 1998, kedalaman Danau Ranupani mencapai 12 meter, namun pada tahun 2013 Danau Ranupani kedalamanya berkurang hingga mencapai 7 meter. Penelitian ini bertujuan untuk Menentukan tingkat pencemaran air yang terjadi pada Danau Ranupani, sehingga nantinya dapat digunakan untuk menentukan alternatif pengelolaan yang tepat untuk mengatasi pencemaran air pada Danau Ranupani. Penelitian dilakukan dalam skala kajian lapangan, dengan pengambilan data primer dan pengumpulan data sekunder yang terkait. Data primer berupa kualitas air dan analisis organisme (plankton dan bentos) Danau Ranupani. Pengambilan data primer untuk kualitas air dilakukan secara random, grab dan composite sampling, sedangkan analisis organisme dilakukan dengan sampling menggunakan metode transek dan observasi lapangan.