2017 : Infrastructure Adaptation Pathway in Achieving Water Sensitive City \nCase Study: DAS Kedurus, Wiyung, Surabaya \n

Umboro Lasminto ST., M.Sc.
Adjie Pamungkas ST.,M.Dev.Plg, Ph.D
Ardy Maulidy Navastara ST., MT.
Hertiari Idajati ST., M.Sc


Abstract

Seiring dengan pembangunan perkotaan akan berimbas pada sistem air, diantaranya supply-demand, limpasan dan infrastrktur air perkotaan. Permasalahan dari buruknya pengelolaan sumber daya akan berakibat pada permasalahan perkotaan pula, seperti kekeringan, banjir, buruknya kualitas air bersih, dll yang nantinya berimbas pada pembangunan yang tidak berkelanjutan.\nBanjir di Surabaya terutama di Kecamatan Wiyung disebabkan oleh perubahan landuse dimana semakin banyak lahan tertutup sehingga kemampuan tanah untuk meresap air dari limpasan hujan berkurang. Selama ini pemerintah Surabaya telah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi banjir diantaranya adalah pemasangan box culvert, boezem dan normalisasi DAS. Namun, upaya-upaya tersebut belum dapat mengatasi permasalahan banjir. Upaya yang telah dilakukan cenderung hanya mengalirkan limpasan air hujan tanpa meresapkan air ke tanah, sehingga ketika intensitas curah hujan tinggi dan box culvert tidak dapat menampung akan mengakibatkan genangan.\nSolusi terkait penangan banjir dan genangan salah satunya adalah penerapan Green Infrastruktur. Green infrastruktur atau infrastruktur hijau merupakan jaringan infrastruktur yang saling berhubungan antara ruang terbuka dengan daerah alam, seperti lahan basah maupun taman, dengan mempertahankan hutan dan vegetasi alamiah, yang nantinya dapat mengelola air hujan, mengurangi resiko banjir, dan meningkatkan kualitas air dengan cara yang alami. Green infrastructure diharapkan dapat terintegrasi dengan konsep Water Sensitive City.