2017 : ANALISIS PETA RAWAN BANJIR MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MULTILEVEL DI KECAMATAN RENGEL KABUPATEN TUBAN

Prof. Dr. Ir. Bangun Muljo Sukojo DEA.DESS
Husnul Hidayat S.T., M.T.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Menurut Richard (1995) mengartikan banjir dalam dua pengertian, yaitu meluapnya air sungai yang disebabkan oleh debit sungai yang melebihi daya tampung sungai pada keadaan curah hujan tinggi dan genangan pada daerah dataran rendah yang datar yang biasanya tidak tergenang. Adapun faktor penyebab banjir menurut Sutopo (1999) banjir dibedakan menjadi persoalan yang disebabkan aktifitas penduduk dan kondisi alam. Faktor aktifitas penduduk berpengaruh terhadap keadaan banjir seperti tumbuhnya daerah budidaya di daerah dataran banjir, penimbunan daerah rawa atau situ, menyempitnya alur sungai akibat adanya pemukiman di sepanjang sepadan sungai. Sedangkan pengaruh dari kondisi alam yang dimaksud antara lain curah hujan yang tinggi, melimpasnya air sungai, dan bendungan muara sungai akibat air pasang dari laut.\nHampir setiap tahun tepatnya pada musim penghujan terjadi banjir dibeberapa daerah, termasuk didaerah Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban. Banjir yang terjadi di Rengel Kabupaten Tuban disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, selain itu dikarenakan Kecamatan Rengel dilalui Sungai Bengawan Solo. Berita Banjir dikecamatan Rengel Kabupaten sendiri bisa setiap tahun kabarkan, baik di media online, media cetak dan juga televisi. Oleh karena itu perlu adanya Pembuatan peta rawan banjir untuk meminimalisir korban banjir.\nDalam pembuatan peta ini kami memanfaatkan ilmu SIG (Sistem Informasi Geospasial). SIG Merupakan pengolahan data geografis yang didasarkan pada kerja Komputer. Dalam analisis tingkat kerawanan banjir digunakan beberapa parameter yang menggambarkan kondisi lahan.Gambaran mengenai kondisi lahan tersebut pada yang dasarnya memiliki distribusi keruangan (spasial), atau dengan kata lain kondisi lahan antara satu tempat tidak sama dengan tempat yang lain. Media yang paling sesuai untuk menggambarkan distribusi spasial ini adalah peta. Dengan demikian parameter tumpang tindih harus direpresentasikan kedalam bentuk peta. Disini Peneliti menggunakan dua citra satelit yang memiliki resolusi spasial berbeda untuk pembuatan Informasi Geospasial Bencana Banjir tingkat kecamatan (1:5.000) dan tingkat Kabupaten (1:25.000).