2019 : Heterogenitas Pencahayaan Alami sebagai Artikulasi Pengalaman dan Orientasi Ruang pada Museum

Dr. Ir. Vincentius Totok Noerwasito
Fenty Ratna Indarti S.T., M.Arch

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Bangunan merupakan salah satu respon manusia terhadap kondisi alam yang tidak menguntungkan. Bangunan menjadi sarana pemenuhan kebutuhan dan hasrat manusia baik secara fisik maupun mental. Dominasi manusia dalam beraktivitas dalam ruang membuat manusia melupakan the sense of nature dalam kehidupan sehari-hari sehingga bangunan yang pada awalnya merupakan sarana perlindungan manusia dapat menjadi sebuah pemisah antara hubungan manusia dengan alam sekitar. Sudah semestinya ruang meruapakan kombinasi antara alam dan lingkungan buatan manusia, sebuah kesan yang berarti, membuat manusia dapat membaca pesan dan ciri khas ruang. Van der Ryn mengemukakan “We are most alive when we experience subtle cycles of difference in our surroundings.� Maksud dari pernyataan tersebut adalah manusia dikatakan ‘hidup’ ketika ada dinamika dalam kehidupannya. Fenomena alam seperti perubahan pagi menjadi malam merupakan sebuah dinamika yang dapat mempengaruhi pengalaman ruang sesorang secara psikologis. Kesadaran akan pentingnya interaksi alam dengan ruang yang ada di dalam bangunan kini mulai dipopulerkan dan menjadi tren. Salah satu elemen yang menjadi perhatian adalah cahaya alami pada ruangan. Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa pencahayaan alami dapat mempengaruhi dan meningkatkan kualitas ruang. Pendistribusian pencahayaan alami yang tepat dapat mempengaruhi kualitas dan pengalaman ruang sehingga memunculkan makna dalam ruang itu sendiri. Penilitian ini bertujuan untuk menemukan pengaruh kualitas pencahayaan alami yang bervariasi untuk memperkaya pengalaman ruang pengunjung museum secara psikologis. Hasil penelitian diharapkan dapat membantu berbagai pihak dalam memahami dan memaknai pencahayaan alami sebagai opsi utama dalam mendesain bangunan yang responsif dan berkesan bagi pengguna. Ke depan, penelitian ini dapat dilanjutkan pada penelitian potensi pencahayaan alami dalam dramatisasi ruang pamer pada museum yang telah melalui proses retrofit.