2021 : CAMPURAN SERBUK GERGAJI KAYU SENGON DAN SABUT KELAPA SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF INSULASI KOTAK PENDINGIN KAPAL PERIKANAN TRADISIONAL

Ir. Alam Baheramsyah M.Sc.

Year

2021

Published in

-

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Sampai saat ini kapal-kapal perikanan tradisional Indonesia, khususnya yang berukuran di bawah 5 GT dan merupakan populasi mayoritas dari kapal perikanan, masih menggunakan kotak pendingin berbahan styrofoam untuk penyimpanan ikan. Akan tetapi styrofoam adalah plastik yang paling bermasalah diantara jenis plastik lainnya karena membahayakan kesehatan dan lingkungan. Dalam penelitian ini telah dilakukan pembuatan dan percobaan unjuk kerja kotak pendingin dengan insulasi utama berbahan dasar campuran serbuk gergaji kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) dan sabut kelapa yang telah mengalami perlakuan perendaman dalam larutan KOH. Kayu sengon dipilih karena merupakan kayu yang banyak digunakan oleh masyarakat, mudah didapat dan memiliki masa tebang yang relatif cepat serta tumbuh di banyak tempat di Indonesia. Sedangkan sabut kelapa sangatlah melimpah di Indonesia, dengan demikian diharapkan kotak pendingin kapal-kapal perikanan Indonesia bisa dibuat dengan mudah oleh para nelayan, lebih murah, dan lebih ramah lingkungan. Beberapa percobaan dengan variasi campuran kayu sengon dan sabut kelapa serta lama waktu perlakuan perendaman sabut kelapa dalam larutan KOH telah dilakukan. Pengujian untuk mendapatkan besarnya nilai konduktivitas termal bahan dilakukan dengan mengacu pada standar ASTM E 1225. Unjuk kerja bahan insulasi alternatif untuk kotak pendingin dilakukan dalam skala penuh dan membandingkannya dengan kotak pendingin berbahan styrofoam. Beberapa pertimbangan dalam penerapannya di kapal perikanan tradisional juga dianalisa. Dari hasil pengujian diperoleh material dengan komposisi 30% serbuk gergaji kayu sengon dan 70% serat sabut kelapa dengan perendaman larutan KOH dengan kadar 15% selama 2 jam sebagai bahan insulasi terbaik berdasarkan empat kriteria penilaian. Dengan nilai konduktivitas termal 0,352W/mK, massa jenis 0,303gram/cm3, dan biaya pembuatan spesimen sebesar Rp 650,- komposisi material tersebut digunakan sebagai acuan dalam pembuatan kotak pendingin. Pengujian kotak pendingin berlangsung selama 35 jam dengan 71 kali pengambilan data suhu. Hasil pengujian kotak pendingin menunjukkan suhu es terendah yang mampu dicapai adalah 0,3°C, sedangkan suhu ikan terendah yang mampu dicapai adalah 5 °C, dan suhu ruang kotak pendingin terendah yang mampu dicapai adalah 17 °C. Dengan perbandingan antara massa ikan dan es sebesar 1: 5, kotak pendingin dengan insulasi serbuk gergaji kayu sengon dan serat sabut kelapa dengan perendaman larutan KOH mampu menjaga suhu ikan di bawah 20°C selama 27,5 jam dan ini sudah memenuhi untuk keperluan kapal-kapal perikanan yang melakukan pelayaran one-day fishing.