2016 : Sistem Pengenalan dan Penerjemah Bahasa IsyaratIstilah Bahasa Indonesiauntuk Alat Bantu KomunikasiTuna Rungudan Tuna Daksa Menggunakan Teknologi Kinect dan Algoritma Rule-Based Neural Network

Dr.Eng. Nanik Suciati S.Kom., M.Kom.
Wijayanti Nurul Khotimah S.Kom., M.Sc.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Berdasarkan susenas yang dilakukan di tahun 2012 oleh pusat data dan informasi kementerian kesehatan RI menyatakan bahwa jumlah penyandang disabilitas sebesar 2.45% dari total penduduk Indonesia dimana penyandang disabilitas tuna rungu menempati urutan terbesar ke dua. Berarti jumlah penderita tuna rungu di Indonesia tidaklah sedikit. Biasanya orang yang menderita tuna rungu dan tuna daksa mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Hal ini mengakibatkan mereka seakan tersisih dalam berkehidupan bermasyarakat karena adanya problem komunikasi.\nSalah satu cara yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk menjembatani komunikasi antara penderita tuna rungu dan masyarakat adalah dengan membuat bahasa isyarat yang kemudian bahasa isyarat tersebut di bukukan dalam sebuah kamus bahasa isyarat yaitu Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI). Namun penggunaan SIBI ini kurang optimal. Hanya orang-orang tertentu (penerjemah) yang mengenal SIBI sehingga ketika seseorang ingin berkomunikasi dengan penderita tuna rungu mereka harus berkomunikasi melalui perantara penerjemah bahasa isyarat yang jumlahnya terbatas. \nDi sisi lain, dengan berkembangnya tehnologi, muncullah penelitian-penelitian yang berusaha untuk membuat sistem yang dapat menerjemahkan bahasa isyarat. Di Brazil, seorang peneliti membuat sistem yang menerjemahkan bahasa isyarat brazil menggunakan sensor RGB-D. Di Arab seorang peneliti menggunakan gloves untuk menerjemahkan bahasa isyarat kata Bahasa Arab.Dan di Perancis, seorang peneliti berhasil menerjemahkan Bahasa Perancis dengan menggunakan sensor Kinect.\nOleh karena Indonesia juga mempunya bahasa isyarat sendiri maka pada penelitian ini diusulkan sebuah sistem untuk mengenali dan menerjemahkanbahasa isyarat istilah Bahasa Indonesia. Adapun perkakas bantu yang digunakan adalah Kinect untuk mendeteksi gerakan tangan dan tubuh pengguna. Sedangkan algoritma yang digunakan untuk preses terjemah adalah algoritma baruRule-based Neural Networkdengan harapan mampu mengklasifikasikan data dengan jumlah kelas yang banyak. Alasan pemilihan perkakas Kinect adalah karenamampu mendeteksi gerakan tangan dan tubuh, serta sifatnya yang portabel sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Dengan adanya sistem ini diharapkan seorang penderita tuna rungu dan tuna daksa bisa berkomukasi dengan mudah dan natural dengan masyarakat dan rasa percaya diri mereka meningkat.\n