2017 : OPTIMASI ANTIBIOFOULING DARI MATERIAL LIMBAH BAHAN ALAMI SKALA LABORATORIUM DAN LAPANGAN ; \nPRA KOMPARASI MODIFIKASI PERMUKAAN STRUKTUR BENDA \n

Aunurohim S.Si.,DEA.
Iska Desmawati S.Si., M.Si.

External link

Type

RESEARCH

Keywords

-


Abstract

Biofouling telah menjadi permasalahan besar bagi pelaku industri maritim. Dampak merugikan dan kerusakan pada struktur bangunan laut, termasuk kapal, memberikan cost tinggi untuk biaya pemeliharaan. Dampak lanjutan dari biofouling adalah biokorosif, yang jelas akan membahayakan keselamatan manusia. Penggunaan TBT (Tri Butyltin) sebagai salah satu pelapis cat anti biofouling memang meminimasi terjadinya hal tersebut. Namun, dampak lingkungan yang ditimbulkan justru tidak terbayangkan, salah satu diantaranya adalah terjadinya IMPOSEX pada jenis Moluska tertentu (Perez, et al. 2009). Kondisi ini mengarahkan pada kepunahan jenis karena konsep imposex adalah kecenderungan perkembangan gonad ke jenis kelamin tertentu, bisa jantan atau betina saja. Kondisi ini kedepannya akan menyebabkan kepunahan secara ekologi, karena tidak akan terjadi reproduksi seksual. Dampak lanjutannya adalah hilangnya salah satu struktur trophik dalam ekosistem laut dan berimbas pada kestabilan struktur komunitas pada ekosistem laut.\n Penggunaan senyawa dari bahan alami telah mulai diperkenalkan untuk mengganti senyawa sintetis semacam TBT. Masalahnya, senyawa bahan alami tersebut berasal dari tumbuhan ataupun hewan yang mempunyai peran penting dalam ekosistem, seperti Rumput Laut dan Terumbu Karang (Majik, et al., 2014) dan Sponge (Majik, et al., 2014 ; Dobretsov, et al., 2015). Oleh karena itu, diperlukan penggunaan senyawa dari bahan alami yang bersifat secondary option, yaitu material seperti kulit durian (Durio durio) (Prabowo, 2009), daun tembakau (Nicotiana tabacum) (Indra dan Aunurohim, 2012) sisa potongan produksi pabrik rokok, dan kulit batang mangrove Rhizophora mucronata (Idora, et al., 2015). Intinya adalah bahan alami tersebut mempunyai senyawa kimia yang mempunyai mekanisme yang mirip dengan TBT sebagai antibiofouling.\n Penelitian ini bersifat multiyears, dimana pada tahun pertama, ketiga material bahan alami tersebut diujicobakan dengan menggunakan material plat baja ASTM 36 ukuran 10 x 10 cm. Untuk mengetahui kemampuan awal dari ketiga bahan alami tersebut maka dilakukan uji trial error di lapangan, termasuk juga mengetahui jenis dan karakteristik model biofouling yang terjadi dan juga kajian zat antibiofouling pada masing-masing bahan alami tersebut. Uji untuk dua material bahan alami yang sudah dilakukan adalah dengan menggunakan kulit durian dan daun tembakau, sementara untuk kulit batang mangrove tidk dilakukan.\n Tahun kedua, dengan berbekal uji trial error, dilakukan evaluasi hasil tahun pertama, baik skala laboratorium untuk daun tembakau dalam hal pembentukan biofilmnya ataupun dengan menggunakan kulit durian yang difokuskan pada makro anti-foulingnya. Masih sedang berjalan untuk dilakukan analisis keduanya dalam perspektif keberhasilan aplikasi dilapangan serta pra komparasi menggunakan ‘biocidal antifouling paints’ yang beredar di pasaran.\n Tahun ketiga sudah mulai dilakukan kajian penerapan bahan alami tersebut pada material dan struktur bangunan laut serta ekosistemnya. Dari hasil ini nantinya diharapkan akan ditemukan agen antibiofouling baru yang berasal dari material bahan alami yang tidak bernilai strategis bagi ketahanan pangan (kulit durian) ataupun material sisa bahan organik (daun tembakau dan kulit batang mangrove) yang bersifat ramah lingkungan.\n