2019 : Pemanfaatan Campuran Limbah Serbuk Kayu Jati dan Serat Ampas Tebu dengan Perlakuan Alkalisasi NaOH sebagai Material Insulasi Kotak Pendingin Pada Kapal Nelayan Tradisional

Beny Cahyono ST.,MT.
Ede Mehta Wardhana S.T., M.T
Mariyanto S.Si., M.T
Lucky Putri Rahayu S.Si., M.Si.
Ervin Nurhayati S.T.,M.T.,Ph.D
Murry Raditya S.T., M.T.
Sefi Novendra Patrialova S.Si., M.T
Maratus Sholihah S.T., M.T
Iftita Rahmatika S.T., M.Eng
Okta Putra Setio Ardianto S.T.,M.T
Ardi Nugroho Yulianto S.T.,M.T
Gita Marina Ahadyanti S.T., M.T
Adhi Iswantoro S.T.,M.T
Fadilla Indrayuni Prastyasari S.T., M.Sc
BANU PRASETYO S.FIL.,M.FIL
Danu Utama S.T.,M.T
Muhammad Luthfi Shahab S.Si.,M.Si
Ninditya Nareswari M.Sc


Abstract

Salah satu jenis alat penyimpan untuk menjaga mutu ikan yang biasanya digunakan pada kapal nelayan tradisional berupa kotak pendingin atau coolbox yang terbuat dari bahan styrofoam. Dalam penggunaannya styrofoam masih memiliki kekurangan, salah satunya yakni berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Sehingga perlu adanya upaya untuk mereduksi penggunaan styrofoam dengan cara mengurangi pemakaian styrofoam sebagai kotak pendingin dan mengganti bahan insulasinya menjadi bahan alam yang ramah lingkungan. Pada penelitian ini, modifikasi dilakukan terhadap material insulansinya dengan melakukan pemanfaatan campuran limbah serbuk kayu jati (Tectona grandis L.f.) dengan serat ampas tebu (Saccharum officinarum). Untuk memperbaiki sifat mekanis serat dan mengurangi nilai konduktivitas termal material diperlukan suatu perlakuan khusus berupa perlakuan perendaman serat ke dalam larutan alkali NaOH. Penelitian ini dilakukan dalam dua trimester dimana akan dilakukan pembatasan pada tiap trimester. Fokus penelitian pada trimester pertama yakni pembuatan, pengujian, serta analisa komposisi spesimen guna mengetahui pada komposisi berapa material dikatakan optimal dan dapat digunakan sebagai rekomendasi material insulasi kotak pendingin. Terdapat sembilan spesimen dengan komposisi berbeda dan perlakuan alkalisasi NaOH berbeda yang akan diteliti. Perbandingan komposisi yang ditetapkan yakni 70:30, 50:50, dan 30:70 untuk kedua jenis serat alam. Sedangkan perlakuan alkalisasi NaOH yang ditetapkan memiliki prosentase 0%, 15%, dan 30%. Sedangkan pada trimester kedua, penelitian berfokus pada upaya pemanfaatan spesimen dengan kriteria paling optimal yang telah dilakukan pada trimester pertama untuk dijadikan sebagai bahan material insulasi kotak pendingin. Selanjutnya, akan dilakukan proses pembuatan, pengujian, serta analisa performa kotak pendingin ikan. Pada trimester kedua penelitian hanya menganalisa berapa lama waktu yang dapat dicapai oleh kotak pendingin berbahan insulasi serat alam untuk mempertahankan suhu ikan, dan menganalisa berapa suhu paling minimum yang dicapai oleh kotak pendingin dan kemudian membandingkannya dengan kotak pendingin berbahan insulasi styrofoam.